Selasa, 13 Mei 2014

SAI BABA DIHORMATI ISLAM DAN BUDHA DI INDIA

SAI BABA DARI SHIRDI SIMBOL MENYATUNYA ISLAM DAN BUDHA DI INDIA
 
SAI BABA KWA 
Membahas kehidupan para pertapa di India, kurang lengkap bila tidak menampilkan sosok legendaris ini. Dialah Sai Baba dari Shirdi, juga dikenal dengan nama Shirdi Baba, ia adalah seorang Guru, mistikus Sufi, sekaligus Mahayogi yang tinggal di Masjid Dwarakamayi. di Desa Shirdi, Distrik Ahmednagar, Maharashtra, India. Pada awal perkembanganya, umat Hindu dan Muslim menjadi pengikutnya. Pengikutnya juga menganggap ia sebagai seorang Awatara atau avatar.
Di sebuah desa bernama Pathri yang terletak di wilayah Nizam, tinggal sepasang suami istri yang taat bernama Ganggabhava dan Devagiriamma. Sang istri adalah bhakta setia Dewi Gauri (Pendamping Dewa Shiva, yang disebut pula Dewi Parvathi). Suaminya, Ganggabhava adalah bhakta setia Dewa Shiva. Mereka tidak mempunyai anak. Hal ini membuat mereka tidak terlalu memikirkan masalah duniawi. Mereka menghabiskan waktu dengan melakukan pemujaan kepada Dewa Shiva dan Dewi Parvathi. Ganggabhava menjalankan perahu sebagai mata pencahariannya. Saat itu musim hujan dan air sungai meluap. Karena khawatir perahunya akan terbawa banjir bila tidak diawasai, Ganggabhava memberitahu istrinya bahwa ia akan pergi ke sungai dan akan tinggal di sana semalam untuk menjaga perahunya. Sang istri menyiapkan makan malam untuk suaminya pada jam 7 malam dan setelah suaminya pergi ia pun menyelesaikan makan malamnya sendiri.
SAI BABA 2 
Sekitar jam 9 malam, seorang mengetuk pintu. Karena mengira bahwa suaminya yang datang dan dengan bertanya-tanya mengapa suaminya pulang begitu cepat, ia membuka pintu dengan segera. Seorang lelaki tua berdiri di depan pintu. Lelaki tua itu kemudian melangkah masuk ke dalam rumah dan berkata. “Oh Ibu, di luar sangat dingin. Apakah engkau mau berbaik hati memberi sedikit tempat bagi saya untuk bermalam disini?” Dengan kebaikan hatinya, ia menyiapkan kasur, memberikannya kepada lelaki tua itu dan mengantarkannya ke suatu tempat di beranda untuk tidur. Devagiriamma masuk ke kamarnya sendiri, menutup pintunya dan berbaring. Tapi tak lama kemudian lelaki tua itu mengetuk pintu kembali. Ketika ia membuka pintu, lelaki tua itu berkata, “Oh, Ibu yang baik hati, saya merasa lapar. Bolehkah saya minta nasi sedikit untuk dimakan?” Karena ia tidak menemukan sesuatu yang berarti kecuali sedikit beras tumbuk di dapurnya, ia menyiapkan sedikit makanan dengan susu asam dan memberikannya kepada lelaki tua itu, ia pun kembali ke kamarnya, menutup pintu dan bersiap untuk tidur. Belum lama waktu berlalu, lelaki tua itu mengetuk pintu kembali. Ketika ia membuka pintu, lelaki tua itu berkata, “Oh Ibu, kaki saya sakit. Maukah engkau berbaik hati untuk memijatnya sebentar saja?”
Wanita itu terkejut. Ia lalu pergi ke ruang pemujaan, bersimpuh di kaki arca Dewi Parvathi dan menangis, “Oh Ibu Yang Mahasuci, ujian berat apakah yang Kau berikan padaku ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tolong selamatkanlah aku dari keadaan yang sulit ini.” Beberapa saat kemudian ia mulai tenang. Ia mendapatkan ide untuk meminta seseorang yang bisa dibayar untuk memijat tamunya. Usahanya sia-sia dan ia pun kembali dengan putus asa. Tiba-tiba ada ketukan di pintu samping. Ketika pintu di buka, seorang wanita masuk ke dalam rumah dan berkata,”Ibu, sepertinya engkau datang ke rumah saya untuk meminta bantuan guna merawat seseorang lelaki tua di sini. Saya datang ke sini untuk menawarkan bantuan.” Devagiriamma sangat bergembira karena ternyata doanya telah di jawab. Ia mengantar wanita itu ke beranda dan meninggalkannya dengan lelaki tua itu dan kemudian ia kembali ke kamarnya sendiri.
Tak lama kemudian, sekali lagi, pintu kamar diketuk. Karena sekarang ada seoarang wanita lain di rumah, Devagiriamma membukakan pintu tanpa rasa ragu. Ia mendapatkan Dewa Shiwa dan Dewi Gauri berdiri dengan cahaya gemerlap. Ternyata lelaki tua dan seorang wanita tadi tak lain adalah Dewa Shiwa dan Dewi Gauri yang sedang yang menyamar untuk menguji kesetiaan Devagiriamma. Hati Devagiriamma dipenuhi rasa bahagia dan ia menyentuh kaki mereka. Dewi Gauri berkata,”Aku menganugerahkanmu seorang anak lelaki yang akan memberikan kemuliaan bagi keturunanmu dan juga seorang anak perempuan sehingga engkau bisa memperoleh punyam dengan menikahkannya dengan seseoarang. Devagiriamma menyentuh kaki Dewa Shiva. Dewa Shiva pun berkata,”Anak-Ku sayang, Aku sangat terkesan dengan bhaktimu. Aku sendiri akan lahir sebagai manusia dalam diri anakmu yang ketiga.” Setelah mengatakan hal itu mereka pun menghilang. Devagiriamma sangat gembira. Ketika fajar tiba, suaminya pulang dan mendengar istrinya tentang segala hal yang terjadi, suaminya enggan mempercayainya.
Waktu terus berjalan dan Devagiriamma pun mengandung. Seperti yang sudah diperkirakan, ia melahirkan bayi laki-laki. Satu tahun kemudian ia melahirkan seorang anak perempuan. Ganggabhava menyadari bahwa dua peristiwa yang disebutkan oleh istrinya sudah menjadi kenyataan. Sekarang ia mulai percaya bahwa Dewa Shiva dan Dewi Parvathi sungguh-sungguh memberi istrinya darshan (penampakan ilahi). Ia berkata kepada istrinya, “Engkau sangat beruntung, saya tidak.”

KELAHIRAN
SHIRDI BABA 3 
Pikiran itu sangat dalam tertanam di benaknya. Seiring berjalanya waktu ia memutuskan melakukan tapa agar dapat memperoleh darshan (penampakan ilahi) Dewa Shiva dan Dewi Parvathi. Ia memutuskan untuk pergi ke hutan dan melanjutkan pencarian spiritualnya. Walau Devagiriamma sedang hamil anak ketiga, karena kesetiannya ia memutuskan untuk ikut menemani suaminya. Dalam perjalanan ke hutan ia melahirkan seorang bayi laki-laki tepat di bawah pohon banyan pada hari Senin tanggal 28 September 1838 Masehi. Devagiriamma membungkus bayinya dengan sepotong kain sari, meninggalkannya dan pergi mengikuti suaminya ke hutan.
MASA KECIL SAMPAI DEWASA
Ada seorang Sufi Fakir tinggal di desa sekitar hutan tersebut. Ia tidak mempunyai anak laki-laki. Ia menemukan bayi yang terbuang itu dan membawanya pulang. Ia senang karena merasa Allah telah memberikannya seorang bayi. Dari tahun 1838-1842 Masehi, anak itu tumbuh di rumah Fakir. Setelah Fakir meninggal, istrinya yang kemudian mengasuh anak lelaki itu. Shirdi Baba memiliki beberapa kebiasaan di masa kecilnya, ia akan pergi ke kuil Hindu dan berteriak, “Akulah Allah” dan “Allah Malik Hai” (Tuhanlah Yang Mahakuasa). Di sisi lain ia pergi ke Masjid, menangis dan berkata, ‘“Rama adalah Tuhan” dan “Shiva adalah Allah” Karena kelakuanya itu, pemeluk dari umat Hindu dan Muslim tersebut mengeluh kepada istri Fakir. Ia mengalami kesulitan mengasuh anak lelaki itu dengan benar. Ia kemudian membawa anaknya ke seorang terpelajar dan memiliki ashram yang bernama Venkusa. Dari tahun 1842-1851, anak lelaki itu diasuh oleh Venkusa. Ia mengasuhnya dengan kasih sayang dan perhatian. Hal tersebut membuat kecemburuan dan kedengkian pada penghuni lain yang juga tinggal di ashram Venkusa. Suatu hari ia pergi meninggalkan ashram dan mengembara dari satu tempat ke tempat lain selama beberapa tahun.
PEMBERIAN NAMA SAI
Dalam pengembaraanya, ia sampai ke desa yang bernama Dhupkeda. Selama ia tinggal di sana, ada acara pernikahan di desa itu di rumah Chand Bhai Patel. Bhagat Mahalsapati melihat keilahian Fakir muda itu dan menyambutnya dengan “Ya Sai” (Selamat Datang Sai). Orang-orang lainnya juga menyebutnya dengan nama Sai dan sejak itu dikenal dengan nama Sai Baba.[7] Nama “Sai Baba” merupakan kombinasi kata dari bahasa Persia dan India. Sāī (Sa’ih) dalam bahasa Persia merupakan sinonim dari kata Brahmajnani (bahasa Sanskerta) artinya orang yang telah mencapai Realisasi Diri. Sai juga dapat berarti Tuhan Sedangkan Baba adalah kata dalam bahasa Indo-Arya yang merujuk pada sebutan hormat untuk bapak, kakek, orang yang dituakan. Nama Sai Baba merujuk pada makna “Bapa Suci”
Setelah mengikuti acara pernikahan itu, si Fakir muda mengembara ke Desa Shirdi pada tahun 1857. Ia tinggal di sana sampai ia wafat tahun 1918. Disana ia tinggal di Masjid Dwarakamayi. Di masjid tersebut ia mulai mengajar umat Hindu dan Muslim.

MAHASAMADHI
SHIRDI BABA 4 
Menjelang akhir hidupnya, Sai Baba dari Shirdi berpesan kepada bhakta kesayangnya Dixit, Abdullah dan Sarada Devi. Ia berpesan bahwa ia akan bereinkarnasi kembali 8 tahun setelah Mahasamadhi (meninggalkan tubuh fisiknya) di wilayah Andhra (India Selatan) dan ia akan berinkarnasi dengan nama yang sama, Sai Baba. Nama kesayangannya adalah Sathyam.[10]
Sai Baba pun kemudian Mahasamadhi pada 15 Oktober, 1918 pukul 2:30 sore. Dia mengambil Mahasamadhi di pangkuan salah satu pengikutnya dan kemudian dimakamkan di “Booty Wada” sebagaimana keinginannya. Kemudian sebuah tempat suci dibangun di tempat itu dan kemudian dikenal sebagai Samadhi Mandir.[11] Hari saat Shirdi Baba mahasamadhi adalah hari yang sangat suci bagi umat Hindu dan bagi umat Islam dimana festival Hindu Dassera dan hari raya Muslim, Muharram telah datang pada hari yang sama. Ini juga merupakan tanda kebesarannya sebagaimana orang-orang percaya bahwa jiwa-jiwa mulia meninggalkan bumi pada beberapa hari suci datang sekaligus.

PENEGASAN JANJI
Setelah Shirdi Baba mahasamadhi, para pengikutnya merasa sangat sedih. Pengikut setianya yang bernama Abdullah sangat cemas dengan keadaan ini. Dia akan menghabiskan begitu banyak waktu di Samadhi Mandir dengan kesedihan. Suatu hari Shirdi Baba menampakkan dirinya secara fisik kepada Abdullah dan berkata: “Abdullah, samadhi mandir hanyalah untuk tubuh, tetapi siapa yang sebenarnya mampu memakamkan Aku? Aku bersifat kekal. Aku akan berinkarnasi di Andhra (India Selatan) setelah delapan tahun”. Setelah berkata seperti itu, Shirdi Baba kemudian menghilang. Dengan kata-kata tersebut Abdullah menjadi tenang.[12]

AJARAN
Kisah hidup Shirdi Baba merupakan pesan-pesan ajaranya. Beberapa diantaranya adalah:
•Tauhid atau Advaita Vedanta
Sejak kecil ia mengatakan “Rama adalah Tuhan” dan “Shiva adalah Allah”.Ia memberikan nasihat yang terus menerus kepada setiap orang : “Rama dan Rahim adalah satu dan sama, tidak ada satupun perbedaan di antara mereka, jadi mengapa para pemujanya menjadi terpisah dan bertengkar di antara mereka? Kalian rakyat bodoh, kanak-kanak, saling berpegangan tanganalah dan kumpulkan dua masyarakat itu bersama. Tuhan akan melindungi kalian” Ia juga membiarkan ritual umat Hindu dan Islam di Masjid Dwarakamayi tempat dimana ia tinggal. Nasehatnya mengajarkanTauhid dalam Islam atau disebut Advaita Vedanta dalam Hindu yang berarti Keesaan Tuhan .
•Menyanyikan Nama Suci Tuhan
Sai Baba mendorong pengikutnya untuk berdoa, menyanyikan nama-nama Tuhan yang manapun, membaca Al-Fatihah, mempelajari kitab suci Al-quran dan teks-teks Hindu seperti Ramayana, Wisnu Sahasranam (Seribu Nama Wishnu), Bhagavad Gita, Yoga Wasista[14][15] Kadang-kadang ia membaca Al-Fatihah sendiri, Baba juga senang mendengarkan moulu dan qawwali disertai dengan tabla dan sarangi dua kali sehari.
•Pelayanan
Beberapa kata-kata yang ia ucapkan kepada para bhaktanya adalah: “Tuhan pasti akan senang, kalau engkau memberikan air kepada yang haus, roti kepada yang lapar, pakaian kepada mereka yang telanjang dan berandamu kepada orang asing untuk duduk dan beristirahat. Jika seseorang meminta uang kepadamu dan engkau tidak ingin memberi, jangan berikan, tetapi jangan menghardiknya seperti anjing. Biarkan siapapun menjelekkan engkau, jangan membencinya dengan memberikan jawaban sengit apapun. Jika engkau selalu toleran dengan hal semacam itu engkau pasti akan bahagia.”    
•Ketidakterikatan
Cara mengajar Shirdi Baba cukup unik dan eksentrik. Seperti gaya berpakaianya, ia memakai kafni sederhana, kusam dan robek, hal tersebut untuk mengajarkan ketidak terikatan kepada para pengikutnya. Ia kadang-kadang meminta sedekah kepada bhaktanya yang satu tetapi menolak menerima sedekah dari bhaktanya yang lain. Ia mengatakan meminta sedekah untuk mengambil keterikatan bhaktanya. Cara ia memberkati bhaktanya juga cukup unik, ia tak segan-segan mengatakan kepada bhaktanya: “Semoga kamu mati”, “kamu anjing”, “kamu keledai”. Saat ditanya tentang maknanya, ia berkata: “semoga kamu mati” berarti semoga seluruh keinginan, kemarahan dan keterikatanmu hancur. “kamu anjing” berarti semoga kamu memiliki iman, kepercayaan dan kesetiaan seperti anjing. “kamu keledai” berarti melayani tanpa mengharapkan penghormatan.
•Penghancuran Ego
Suatu ketika seseorang datang ke Shirdi untuk memotret Shirdi Baba. Baba melihat mereka dan bertanya pada orang terdekatnya Mohan Shyam.”Shyam, kenapa mereka datang ke sini?” Shyam menjawab, “mereka datang untuk memotretmu”. Baba menjawab, “Tidak, tidak. Katakan pada mereka untuk tidak memotret-Ku. Tak mudah memotret-Ku. Dindingnya harus dihancurkan terlebih dahulu.” Maksud dari kata-katanya adalah, ia bukanlah tubuh dan ia adalah Parabrahman (Tuhan yang tak berwujud, tunggal, kekal abadi). Untuk bisa melihat atau “memotret” (mengenal) Parabrahman tidaklah mudah. Dinding ego (si aku) yang menghalanginya harus dihancurkan terlebih dahulu.
Shirdi Baba juga membuat dhuni (tempat pembakaran kayu) di Masjid Dwarakamayi yang menghasilkan udhi (abu suci), yang bermakna untuk bisa memasuki Rumah Tuhan, seseorang harus membakar egonya hingga hancur seperti abu.
MUKJIZAT ILAHI
Kehidupan dan tingkah laku Sai Baba dari Shirdi cukup misterius, bahkan kadang-kadang orang terdekatnya tidak mengerti makna apa yang ia lakukan. Ia juga biasa melakukan mukjizat antara lain menyembuhkan wabah kolera dengan udhi-nya (abu suci), menyelamatkan para pengikutnya dari musibah, mengubah air menjadi minyak, ia mempunyai kemampuan memahami bahasa binatang, juga berbicara dalam berbagai bahasa.
Suatu ketika ada seorang anak bermain kelereng dengan Shirdi Baba kecil. Shirdi Baba kecil terus menang. Karena anak itu kehabisan kelereng, anak itu mengambil batu Saligram emas (yang bentuknya mirip kelereng) di altar rumahnya. Baba menang lagi da ia mengambilnya. Anak itu marah dan meminta agar Baba mengembalikannya. Tetapi Baba tidak mau karena ia sudah memenangkannya. Sadar batu saligram untuk acara ritual ibadah hilang, Ibu pemilik batu saligram itu menanyakan hal tersebut pada anaknya. Mendengar batu saligramnya diambil oleh Shirdi Baba kecil, Ibu tersebut mencari lalu menarik telinga Shirdi Baba kecil agar mengembalikan batu saligram tersebut. Tetapi Shirdi Baba kecil malah menelannya. Ibu itu kemudian memaksa Shirdi Baba kecil agar membuka mulut. Dengan lugunya ia membuka mulut. Ibu itu terkejut melihat alam semesta berada di mulut Shirdi Baba.
Orang terdekatnya yang bernama Mohan Shyam, suatu ketika ia mengintip kegiatan Shirdi Baba di malam hari. Ia melihat Shirdi Baba berbicara sendiri dengan berbagai bahasa. Saat Mohan Shyam bertanya kenapa Shirdi Baba melakukan hal itu. Ia menjawab bahwa; “Umat-Ku yang Aku urus bukan hanya engkau saja, Aku sedang menjawab doa-doa umat manusia di seluruh dunia.”
PERKEMBANGAN GERAKAN
Dalam perkembangannya, Sai Baba kemudian dianggap sebagai Pir oleh beberapa kelompok sufi. Meher Baba menyatakan Shirdi Baba sebagai Qutub-e-Irshad– yang tertinggi dari lima Qutub.
Baba juga dihormati oleh tokoh terkemuka dari Zoroastrianisme seperti Nanabhoy Palkhivala dan Homi Bhabha dan telah dianggap sebagai tokoh yang paling populer dari non-Zoroaster yang menarik perhatian umat Zoroaster.
Sai Baba dari Shirdi dianggap sebagai simbol pemersatu agama-agama dan umat manusia. Tempat suci dan organisasi untuk penghormatan Shirdi Baba kemudian didirikan tidak hanya di India bahkan meluas sampai Malaysia, Singapura, Australia dan Amerika Serikat.

Senin, 12 Mei 2014

Anak Pante

  Orang-orang Pesisir

Membayar tambang

Masih belia sudah akrab dengan air


Anak pesisir bermain


Peloncat-peloncat indah alami



Mencari daun nipah untuk dijadikan atap dan pucuknya dijadikan rokok daun

Perahu-perahu nelayan

Senja di muara

Bersandar di bawah jembatan Tabayang (Tanjungbalai Sei. Kepayang)

Di Tangkahan Labuhan Bilik menuju Tanjung Sarang Elang (Sei. Barumun)

Mandi Cuci dan Kakus sudah pemandangan biasa di daerah pesisir

Anak-anak balita sudah akrab dengan sungai

Narsis di galangan boat (perahu besar bermesin)

Jermal adalah alat penangkap ikan di laut. Alat ini berbentuk pagar dari pancang kayu dan diberi pintu semacam bubu dan dibelakangnya diberi jala untuk dapat diangkat setelah mendapatkan ikan. Alat ini dipasang sekitar 3 hingga 6 mil dari tepi pantai.
Jermal biasa digunakan di Sumatera bagian utara.


Timbunan jaring pukat nelayan setelah melaut

Nelayan sedang menuju pulang


Hasil tangkapan nelayan hari ini



Hendak berlabuh untuk menebar jaring 

Nelayan tradisional lagi bersandar di paluh

Memancing bersama di sungai

Seorang perantau tertarik untuk bekerja di boat penangkap ikan

Tangkahan-tangkahan boat

Nelayan diwaktu subuh menuju laut di Kuala Sungai Barumun


Sungai Silau tempat nelayan keluar masuk



Sungai Asahan tempat boat penangkap ikan modern bersandar

Sampan Kotak sebagai sampan tambang di Sungai Asahan yg sudah terpinggirkan 
seiring kemajuan zaman dan pembangunan wilayah

Penambang pasir di Sungai Silau (latar belakang Pasar Monza) Tanjungbalai


  
Desa Nelayan di pinggiran sungai yang tenang

Sungai kecil di kota yang harus dijaga kebersihannya

Sudah jamak hunian nelayan terkesan kumuh, walau alamnya cukup indah

SEKELUMIT TENTANG PANTE BURUNG TANJUNGBALAI

SEKELUMIT TENTANG PANTE BURUNG 





Pante Burung   dahulunya (dibawah tahun 80an) dikenal juga dengan nama Semenanjung. Jalan ke wilayah ini dapat dilalui kenderaan roda empat keatas hanya sampai pangkal jembatan Pante Burung. 
Jembatannya terbuat dari kayu memakai atap seng untuk melindungi lantainya dari hujan dan panas agar tidak mudah lapuk. 




Mulai dari ujung jembatan kita harus melalui jalan setapak tanpa pengerasan dan hanya dilalui pejalan kaki ataupun sepeda menuju daerah peladangan (sawah tadah hujan) disepanjang sisi Sunge Silo dan Sunge Bandar Jopang. Di daerah ini banyak tumbuh pohonan rawa dan pesisir seperti nipah, nibung, pandan, rumbia, aren, asam kalubi, keduduk, halaban, dll. Banyaknya pepohonan liar dan sungai di kanan kiri menyebabkan banyak pula burung-burung aneka jenis seperti punai, tiung, ruwak-ruwak, balam, perkutut, bangau, dll yang bersarang di daerah ini sehingga lama kelamaan terkenal dengan julukan pante burung.



Dahulunya sunge yang melintasi kawasan Pante Burung ini hulunya berasal dari Desa Banjar Teluk Dalam melintasi Sunge Dua Datuk Bandar terus melewati Sijambi masuk ke daerah Jalan Rambutan, lalu melintasi Pante Burung menuju Gang Malaka, Gang Turang dan bermuara ke Sunge Silo.

Pada tahun 70an kebawah sunge kecil ini masih dapat dilalui perahu-perahu kayu nelayan yang banyak bermukim di sepanjang pinggiran sunge ini. Tetapi sekarang hanya dapat dilalui perahu sampai ke Pante Burung ini saja, itupun harus menunggu pada waktu air pasang. 
Dahulu diwaktu pasang airnya dalam dan bersih, dimanfaatkan oleh penduduk sebagai air minum dan MCK. Sekarang ini airnya sudah coklat kehitaman dan berbau. 


Dimasa kecil bersama teman-teman sepermainan (pada saat air pasang) berhanyut-hanyut menggunakan batang pisang dari Sunge Silo memasuki sunge kecil ini melintasi Gang Turang, Gang Malaka, Pante Burung, Jalan Rambutan, Sijambi dan Sunge Dua.


Di kiri kanan tepian sunge ini kala itu masih banyak ditumbuhi bamban dan rerumputan, bila rerumputan ini kami singkap dan balik maka puluhan udang-udang kecil dengan mudah kami dapatkan. Begitu pula bila memancing, waktu itu sangat mudah mendapatkan aneka ragam ikan seperti baung, tilan, kopar-kopar, paitan, sibaro, tapah, dll. 



Pada pertemuan (kuala) sunge kecil ini dengan Sunge Silo (tepatnya di Gang Turang) di dasarnya yang berlumpur dan berpasir bila digaru menggunakan alat ataupun tangan akan mudah didapatkan kepah sunge yang berwarna hijau lumut kehitaman.

TANJUNGBALAI DALAM GAMBAR


Foto Gedung di Pantai Reklamasi Tanjungbalai; untuk menceritakan bahwa dahulu pada awal terbentuknya Kerajaan Asahan disini di Ujung Tanjung pertemuan antara Sungai Silau dan Sungai Asahan terdapat sebuah balai-balai tempat singgahnya para nelayan maupun sebagai tempat pertemuan (kongkow-kongkow) para masyarakat pesisir yg berdekatan

Gedung Administrator Pelabuhan Tanjungbalai

 Pelabuhan (Boom) Tanjungbalai pada masa penjajahan Belanda

Istana Sultan Asahan yang telah dirubuhkan pada masa Walikota Ibrahim Gani (awal 1980an). Istana pada gambar ini telah mengalami dua kali renovasi (Istana Pertama seberti foto di bawah ini)





Tangkahan Sampan Tambang Cap Go Can

 Gedung Serba Guna 

Kelenteng di Pantai Reklamasi dengan pembangunan patung Budha di atasnya menimbulkan kontroversi dan kemarahan masyarakat Tanjungbalai yang mayoritas beragama Islam, karena sejak jaman Kerajaan Asahan, jaman penjajahan Belanda, jaman Awal Kemerdekaan (Soekarno) sampai dengan Soeharto hal ini tidak dibenarkan


Kantor Walikota Tanjungbalai yang pertama sekali digunakan oleh dr. Sutrisno Hadi, SpOG

Mesjid Raya Tanjungbalai pada malam hari; Mesjid ini dibangun oleh Kesultanan Asahan dan disini terdapat makam-makam para keluarga Kesultanan Asahan


 Mesjid SAKSI Jl. S.Parman/Sp. T. Umar) Tanjungbalai; Mesjid ini dibangun dari swadaya masyarakat serta beberapa orang tokoh masyarakat setempat seperti H. Aman Sirait.



Alun-alun Lapangan Sultan Abdul Jalil Rahmadsyah - Sultan I Asahan (Lapangan Pasir)

Gedung Sejarah Tanjungbalai, terletak di Jalan menuju Air Joman-Asahan (dekat pintu air Asrama Brimob)


RSU dr. Tengku Mansyur

 Pajak Kawat diwaktu malam

Pajak Monza

Bank Mega Jl. T. Umar Tanjungbalai

 
Pusat Jajanan Malam Tanjungbalai (Kotacane/Samping Toko Sony)

Sekolah di belakang Stasiun Kereta Api Tanjungbalai

Tugu Adipura (depan SMPN 1 Tanjungbalai)

Titi Sungai Silo Tanjungbalai

Patembo 70an

Patembo kini

Kota Tanjungbalai adalah salah satu kota di provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Luas wilayahnya 60,52 km² dan penduduk berjumlah 154.445 jiwa. Kota ini berada di tepi Sungai Asahan, sungai terpanjang di Sumatera Utara. Jarak tempuh dari Medan sekitar 4 jam.
Sebelum Kota Tanjungbalai diperluas dari hanya 199 ha (2km²) menjadi 60,52 km², kota ini pernah menjadi kota terpadat di Asia Tenggara dengan jumlah penduduk lebih kurang 40.000 orang dengan kepadatan penduduk lebih kurang 20.000 jiwa per km². Akhirnya Kota Tanjungbalai diperluas menjadi ± 60 Km² dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 20 Tahun 1987, tentang perubahan batas wilayah Kota Tanjungbalai dan Kabupaten Asahan.

Demografi

Hasil Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk Kota Tanjung Balai berjumlah 154.445 jiwa yang terdiri atas 77.933 jiwa dan 76.512 jiwa perempuan. Penduduk Kecamatan terbanyak berada di Kecamatan Teluknibung dengan jumlah penduduk 35.802 jiwa sedangkan yang terendah berada di Kecamatan Tanjungbalai Utara Dengan jumlah penduduk 15.862 jiwa.
Dan Berikut adalah tabel penduduk Kota Tanjung Balai Per Kecamatan Tahun 2010 :
Nomor Kecamatan Penduduk/Jiwa
1 Datuk Bandar 33.797
2 Datuk Bandar Timur 26.942
3 Tanjungbalai Selatan 19.330
4 Tanjungbalai Utara 15.862
5 Sei Tualang Raso 22.712
6 Teluknibung 35.802

Geografi


Jembatan angkat di atas sungai Silau dekat Tanjungbalai

Tanjungbalai pada tahun 1895
Kota Tanjungbalai terletak di antara 2° 58' LU dan 99° 48' BT, dengan luas wilayah 60,52 km² (6.052 ha), dikelilingi oleh wilayah Kabupaten Asahan dengan batas-batas sebagai berikut:
Utara Kecamatan Tanjung Balai
Selatan Kecamatan Simpang Empat
Barat Kecamatan Simpang Empat
Timur Kecamatan Sei Kepayang

Pandangan Umum

Kota Tanjung Balai terletak di antara 2º58' Lintang Utara dan 99º48' Bujur Timur. Posisi Kota Tanjung Balai berada di wilayah Pantai Timur Sumatera Utara pada ketinggian 0-3 m di atas permukaan laut dan kondisi wilayah relatif datar. Kota Tanjung Balai secara administratif terdiri dari 6 Kecamatan, 31 Kelurahan. Luas wilayah Kota Tanjung Balai 6.052 Ha (60,52 km²)

Perbankan

  • Bank SUMUT
  • Bank Mandiri
  • Bank BRI
  • Bank BCA
  • Bank Muamalat
  • Bank BNI
  • Bank Danamon

Sejarah


Foto udara Tanjungbalai pada tahun 1930-an

Pelabuhan Tanjungbalai di masa Hindia Belanda

Kantor perusahaan Güntzel & Schumacher di jalan Heerenstraat di Tanjungbalai tahun 1917
Sejarah perkembangan kota ini sangat berkaitan dengan kehadiran Kesultanan Asahan, sekitar pertengahan abad ke-18, kemudian kerajaan ini dianeksasi oleh pemerintah Hindia-Belanda, menjadi suatu gemeente berdasarkan Besluit Governeur General tanggal 27 Juni 1917 dengan Stbl. no. 284/1917, sebagai akibat dibukanya perkebunan-perkebunan di daerah Sumatera Timur, termasuk daerah Asahan, seperti H.A.P.M., SIPEF, London Sumatera ("Lonsum"), dan lain-lain. Kota Tanjungbalai menjadi kota pelabuhan dan pintu masuk ke daerah Asahan yang penting artinya bagi lalu-lintas perdagangan Hindia-Belanda.

Pemerintahan

Walikota

No. Nama Masa bakti
1 Dr. Edwarsyah Syamsura 1956 - 1958
2 Wan Wasmayuddin 1958 - 1960
3 Zainal Abidin 1960 - 1965
4 Syaiful Alamsyah 1965 - 1967
5 Anwar Idris 1967 - 1970
6 Patuan Naga Nasution 1970 - 1975
7 H. Bahrum Damanik 1975 - 1980
8 Drs. H. Ibrahim Gani 1980 - 1985
9 Ir. H. Marsyal Hutagalung 1985 - 1990
10 H. Bachta Nizar Lubis, S.H. 1990 - 1995
11 Drs. H. Abdul Muis Dalimunthe 1995 - 2000
12 dr. H. Sutrisno Hadi, Sp.O.G. dan Mulkan Sinaga (wakil) 2000 - 2005
13 dr. H. Sutrisno Hadi, Sp.O.G. dan Drs. H. Thamrin Munthe, M.Hum. (wakil) 2005 - 2010
14 Drs. H. Thamrin Munthe M.Hum dan Rolel Harahap (wakil) 2011 - sekarang

Kecamatan

  1. Datuk Bandar
  2. Datuk Bandar Timur
  3. Sei Tualang Raso
  4. Tanjungbalai Selatan
  5. Tanjungbalai Utara
  6. Teluknibung

Perwakilan

DPRD kota Tanjungbalai 2009-2014
Partai Kursi
Lambang Partai Golkar Partai Golkar 6
Lambang Partai Demokrat Partai Demokrat 4
Lambang PDI-P PDI-P 3
Lambang PAN PAN 2
Lambang PKPB PKPB 2
Lambang PKB PKB 2
Lambang Partai Hanura Partai Hanura 2
Lambang Partai Patriot Partai Patriot 2
Lambang PKS Partai Keadilan Sejahtera 1
Lambang PPP PPP 1
Total 25
Sumber:[5]

Penduduk

Tanjungbalai yang dalam sejarahnya menjadi kota perdagangan tidak diragukan lagi merupakan kota multietnis. Berbagai suku bangsa bercampur di sini: Melayu 30%, Jawa 35%, Sunda, Batak 20%, Nias dan Tionghoa 15% adalah sebagian dari etnik yang bermukim di kota ini.

Wisata kuliner

Beberapa makanan khas kota Tanjung Balai diantaranya adalah kerang daguk (kerang batu), kerang bulu, ikan asin mayung, ikan teri Medan (Teri Putih), udang asin (udang pukul), belacan (terasi udang), gulai asam, sayur daun ubi tumbuk, sombam ikan, anyang pakis, dan anyang Kepah[6].

Lain-lain

  • Setiap akhir tahun, diadakan Pesta Kerang guna memperingati Hari Ulang Tahun Kota Tanjungbalai.
  • Kota ini dijuluki "Kota Kerang". (hal ini dikarenakan dulu Kota Tanjungbalai pernah menghasilkan Kerang dalam jumlah yang besar, tetapi beberapa waktu belakangan ini produksi Kerang jauh menurun dikarenakan ekosistim yang tidak mendukung)
  • Kota ini memiliki jembatan panjang yang melintasi Sungai Asahan.
  • Tanjungbalai pernah menerima Anugerah Adipura sebagai kota terbersih se-Indonesia pada tahun 2008.