Minggu, 13 Juli 2014

Tanjungbalai Awal Abad 20 Dalam Gambar

Lingkungan Istana Asahan awal abad 20 (1900an) Dalam Gambar



Keterangan Gambar :
  1. Istana Kesultanan Asahan ini bernama Istana Indera Sakti, dibangun pada masa pendudukan Belanda di Asahan di masa Sultan XI Asahan Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah II (1888-1915). Istana Asahan ini berdiri sampai tahun 1982 di Jalan Pahlawan Tanjungbalai. Bekas pertapakannya sekarang menjadi komplek ruko dan di seberang halaman depannya sekarang berdiri Stadion Sepakbola Asahan Sakti dan Lapangan Sultan T. Abdul Djalil Rahmadsyah (lapangan pasir). Istana ini didirikan di tepian Sungai Silau yang berjarak lebih kurang 1 Km dari "Balai di Tanjung" yang terletak di tepi muara Sungai Silau. Supaya halaman belakang istana ini tidak tergerus air sungai maka dibangun tanggul besi di pertemuan Sungai Gang Turang dan Sungai Silau (tanda 4 pada gambar). Tanggul besi ini seingat penulis sampai pada medio 90an masih ada, tempat penulis bersama teman-teman sebaya memancing ikan baung dan paitan yang banyak terdapat di sekitar itu pada masa itu.
  2. Rumah kerabat Kesultanan Asahan (sekarang terletak di Jalan Pahlawan simpang Jalan Pattimura/Gang Turang). Rumah ini pernah dipakai sebagai rumah dinas Walikota Tanjungbalai sampai pada masa Walikota Bahrum Damanik, sesudahnya dipakai sebagai rumah dinas Sekda Tanjungbalai setelah Walikota berumah dinas di Jl. Sudirman Tanjungbalai. Dalam gambar terlihat belum ada Stadion Sepak Bola Asahan Sakti . Rumah-rumah yang ada di belakang rumah ini (lihat gambar) adalah rumah-rumah yang masih masuk kerabat istana, diantaranya didiami oleh T. Titik (keturunan Sultan Asahan XIII, T. Syaibun).
  3. Bertanda 3 pada gambar adalah pabrik sabun yang sekarang sudah menjadi komplek perumahan. Seingat penulis  pabrik sabun ini masih ada sampai akhir tahun 70an. Berdekatan dengan itu terdapat sebuah bengkel sehingga pantai Sungai Silau disekitar itu disebut dengan Sungai Bengkel.


Gambar Tangkahan Tiga Sen Tanjungbalai Tahun 1930an sebagai pelabuhan tradisional masyarakat Tanjungbalai dan sekitarnya pada masa itu.


Rabu, 09 Juli 2014

Partisipasi Kesebelasan Indonesia Dalam Sejarah Piala Dunia



KESEBELASAN INDONESIA DALAM SEJARAH PIALA DUNIA





Menurut sejarah Piala Dunia, Indonesia pernah berpartisipasi dalam pentas sepakbola terbesar itu. Mengusung nama Dutch East Indies (Hindia Belanda). Indonesia bermain untuk pertamakalinya pada Piala Dunia di Perancis Tahun 1938.
Para pemain asli Indonesia maupun warga Tionghoa dan Belanda bergabung dalam tim Hindia Belanda itu. Mereka diantaranya ; Anwar Sutan, Achmad Nawir, Mo Heng, Hong Djien, Henk Zomers, dan G Van Den Burg. Nama-nama mereka mungkin saja masih kurang akrab di telinga kita dibanding skuad tim Olimpiade Melbourne 1956 seperti Djamiat Dalhar, Thio Him Tjiang, Kiat Sek, Ramang, atau LH Tanoto (Tan Liong Houw) yang hingga kini masih melegenda.

 Achmad Nawir (berkacamata), Kapten Timnas Hindia Belanda
 
1.    Achmad Nawir (Kapten Timnas Hindia-Belanda)
Lahir pada 1 Januari 1911 – meninggal pada bulan April 1995 pada umur 84 tahun, merupakan seorang mantan pemain sepak bola Indonesia yang berposisi sebagai gelandang. Ia bermain di tim HBS Soerabaja dan untuk tim nasional Hindia-Belanda.

2.    Anwar Sutan (Vios Batavia). Posisi: Gelandang
3.    Frans Hukon (Sparta Batavia). Posisi: Belakang
4.    Frans Meeng (SVB Batavia). Posisi: Gelandang
5.    Hans Taihuttu (Jong Ambon Batavia). Posisi: Penyerang


Pemain secara keseluruhan di TimNas Hindia-Belanda, Perancis 1938:
Pemain utama:

- Achmad Nawir
- Mo Heng Tan
- Hong Djien Tan
- Frans Meeng
- Tjaak Pattiwael
- Hans Taihuttu
- Suvarte Soedermadji
- Anwar Sutan
- Henk Zomers
- Frans Hu Kon
- Jack Samuels

Cadangan:
- J. Harting
- Mo Heng Beng
- Dorst
- Teilherber
- G. Faulhaber
- R. Telwe
- Se Han Tan
- G. Van Den Burg


Hindia Belanda tampil di Piala Dunia atas dasar penunjukan FIFA karena Jepang mengundurkan diri. Kehadiran Dutch East Indies tetap tercatat dalam sejarah sebagai negara Asia pertama yang tampil di Piala Dunia. Timnas Indonesia langsung lolos ke babak final Piala Dunia di Prancis 1938, tanpa harus melewati babak kualifikasi, karena menggantikan posisi Jepang yang mengundurkan diri  tak jadi berangkat karena faktor transportasi.

Untuk memenuhi undangan tersebut, Hindia Belanda membentuk skuat yang terdiri dari perpaduan antara warga lokal suku Jawa, Maluku, warga etnis Tiongkok plus Indo-Belanda. Johannes Christoffel van Mastenbroek (Belanda) ditunjuk untuk menangani tim nasional Hindia Belanda. Sang pelatih lahir 5 Juli 1902 dan dibesarkan dibesarkan di Dordrecht, Belanda bagian Selatan. Skuat Hindia Belanda diketahui berangkat ke Prancis tanpa mendapat restu dari PSSI yang berdiri pada tahun 1930. Para pemain dan staf kepelatihan diberangkatkan oleh sebuah organisasi bentukan pemerintah kolonial Belanda, Nederlandcshe Indische Voetbal Unie (NIVU). FIFA lebih mengakui NIVU daripada PSSI.
Tim Indonesia yang dibawa itu memang bukan yang terbaik. Pasalnya pemain sekelas Djawad, Jazid, Moestaam atau Maladi tak dilibatkan. Boleh jadi bila mereka tergabung dalam skuad Dutch East Indies bisa lain ceritanya. Organisasi PSSI yang masih belum rapi sebelum Indonesia merdeka kemungkinan menjadi penyebab Belanda melakukan sistem asal-asalan dalam hal perekrutan pemain.

Hingga 1945 tercatat ada dua badan yang mengendalikan sepakbola Indonesia yakni PSSI dan Nederland Indische Voetbaal Unie (NIVU). Baru pada tahun 1949, pemerintah Indonesia menetapkan nama PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia). 
Pada pertandingan perdananya tim Hindia Belanda sudah harus menghadapi tim favorit pada masa itu, Hungaria dengan sistem gugur. Sedikitnya 9.000 penonton yang memenuhi Stade Velodrome Municipal di kota Reims, Perancis, 5 Juni 1938, sore hari itu menyaksikan tim bagaimana tim Hindia Belanda dikandaskan 0 – 6 (0 – 4) oleh Hungaria. Achmad Nawir dkk. harus mengakui bahwa mereka kalah kelas dari Hungaria yang diperkuat bintang-bintang pada zamannya, seperti Gyorgy Sarosi dan Gyula Zsengeller

Gawang Hindia Belanda yang dijaga Mo Heng harus bobol sebanyak enam kali tanpa balas oleh tendangan Gyorgy Sarosi, Gyula Zsengeller maupun Kohut Vilmos dan Geza Toldi. Sarosi dan Zsengeller bahkan kemudian masuk daftar 3 besar pencetak gol terbanyak di Piala Dunia 1938. Kendati demikian prestasi tim Hindia Belanda yang diasuh Johannes Van Mastenbroek itu tetap patut diberi acungan jempol, karena tim sekelas Swedia pun dibantai Hungaria di babak semifinal dengan skor telak 0 – 5. Dan Hungaria-lah yang kemudian tampil sebagai runner up di kejuaran tahun 1938 tersebut, setelah Hungaria menyerah 2 – 4 pada Italia di babak final.

Wasit Roger Conrie (asal Prancis) memimpin pertandingan yang digelar pada 5 Juni 1938 itu. Ia didampingi hakim garis Carl Weingartner (Jerman) dan Charles Adolphe Delasalle (Prancis), memimpin dua tim yang masuk ke dalam lapangan hijau.



 
Tim Hindia Belanda dilaporkan oleh BBC bermain dengan mengenakan kaos oranye berkerah putih, celana pendek selutut berwarna putih dan kaos kaki berwarna biru muda. Sedangkan tim Hungaria memakai kostum serba putih.

Kapten tim Hindia Belanda Achmad Nawir seorang dokter memakai kacamata dalam bermain. Wartawan olahraga Belanda, CJ Goorhoff dari Time, berkesempatan meliput pertandingan Hindia Belanda vs Hungaria secara langsung di stadion yang kini berganti nama jadi Stadion Auguste Delaune. Dalam laporannya, seperti dikutip dari BBC, permainan tim Hindia Belanda kurang mampu mengembangkan permainan. Namun di babak kedua permainan mereka menjadi lebih baik.

Senin, 07 Juli 2014

SEJARAH TANJUNGBALAI DALAM GAMBAR (2)

SEJARAH TANJUNGBALAI DALAM GAMBAR

2. Deli Spoor Maatschappij (DSM) Terminal Tandjoeng Balei



Jacob Nienhuys (1836-1928)
Pendiri the Deli Maatschappij Tahun 1869
 

Dibangun pada masa Pemerintahan Hindia Belanda (1895) dimasa Sultan Asahan XI, Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah II sebagai infrastruktur transportasi dari dan ke perkebunan-perkebunan yang dikelola Hindia Belanda di Asahan dari dan ke Pelabuhan Tanjungbalai dan Teluk Nibung. Begitu juga sebaliknya berupa barang-barang komoditi kebutuhan pemerintah Hindia Belanda, perkebunan, dan masyarakat dari luar daerah bahkan luar negeri ke Asahan dan daerah Sumatera Timur lainnya bahkan terhubung sampai ke Medan (Deli) dan Belawan.



Pembangunan rel kereta api DSM dari Deli ke Tanjungbalai yang banyak melalui daerah berawa-rawa



Inilah rute perjalanan Kereta Api di Sumatera Timur masa Pemerintahan Hindia Belanda :

Bandar Poeloe Estate *** Baumann Wetter & Co. *** Bindjey *** Blimbing *** Dolok Estate*** Gallia *** Unternehmung Goerach Batoe *** Unternehmung Goerach Batoe *** Unternehmung Hessa *** Hüttenbach & co. *** Unternehmung Kisaran *** Kwala Begoemit *** Onderneming Lingga *** The Netherlands India Sumatra Tobacco Company Limited *** Padang Tjermin *** Unternehmung Poeloe Radja *** Onderneming Rimboen *** Asahan Tabak Maatschappij Silau *** Kedeh China Onderneming Simpang – Tiga *** Malay Kedeh onderneming Simpang Tiga *** Soengai Serbangan *** Soengy Diskie *** Tanah Radja *** Tandjong Alam *** Tandjong Kuba *** Onderneming Wampoe.

Minggu, 06 Juli 2014

Sejarah Tanjungbalai Dalam Gambar

SEJARAH TANJUNGBALAI DALAM GAMBAR


  1. Istana Indera Sakti II, Istana Kesultanan Asahan
Istana ini terletak di tepi Sungai Silau, lebih kurang 1 Km jaraknya ke hulu dari Balai Di Ujung Tanjung yang dibangun Simargolang untuk "Balai Penghadap" kepada Sultan Iskandar Muda (1612 M). Istana Indera Sakti ini sebenarnya adalah Istana Indera Sakti yang kedua, istana yang pertama dijadikan Gedung Kerapatan Kesultanan Asahan. Istana Indera Sakti II dibangun oleh Belanda pada masa Sultan Asahan ke XI Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah II yang berkuasa dari tahun 1888 s/d 1915, dimana Pemerintah Hindia Belanda mengadakan perjanjian politik dan konsesi tanah perkebunan dengan Kesultanan Asahan.

Setelah kemerdekaan pada tahun 1946 terjadi "Revolusi Sosial" di Asahan dan Kerajaan-Kerajaan di Sumatera Timur. Istana ini kemudian dibawah pengawasan Batalyon 124 Kala Chakti dan dimanfaatkan sebagai barak dan asrama prajurit yang bertugas di Tanjungbalai maupun di Asahan.

Pada sekitar awal tahun 80an (masa Walikota Tanjungbalai Drs. H. Ibrahim Gani) oleh pihak ahli waris Istana Kesultanan Asahan ini dijual kepada pihak ketiga. Sebagai konpensasinya lahan Kantor Koramil Kota Tanjungbalai yang ada sekarang (dahulunya adalah aset Kesultanan Asahan) diserahkan kepada Korem Pantai Timur selaku atasan Batalyon 124 Kala Chakti Asahan melalui Kodim Asahan untuk dibangun Kantor Koramil Tanjungbalai dan rumah prajurit sebagai ganti pemakaian Istana Asahan terdahulu.

Sketsa Tanjungbalai dimasa Pemerintahan Hindia Belanda

SKETSA TANJUNGBALAI 

DIMASA PEMERINTAHAN HINDIA BELANDA


Keterangan Gambar :
  1. Istana Indera Sakti II Kesultanan Asahan, dibangun dimasa SULTAN ke X, MUHAMMAD HUSEIN SYAH II lahir pada tahun 1862 dan mulai memerintah sejak 8 Oktober 1888 sampai dengan 7 Juli 1915. Setelah Revolusi Sosial (1946) dimanfaatkan oleh Batalyon 124 Kala Chakti Asahan menjadi asrama prajurit.  Istana ini sekitar awal tahun 80an dimasa Walikota Ibrahim Gani telah dijual oleh Ahli Waris kepada pihak ketiga.
  2. Sungai Silau dan pemukiman masyarakat waktu itu
  3. Stasiun Kereta Api
  4. Jembatan Sungai Silau
  5. Anak nelayan bermain di kuala Sungai Silau (Sungai Asahan)
  6. Sungai Silau
  7. Pajak Kawat
  8. Pertokoan Jl. Asahan
  9. Istana Indera Sakti I yang kemudian setelah dibangun Istana Indera Sakti II menjadi Gedung Kerapatan Kesultanan Asahan, kemudian setelah revolusi sosial (1946) menjadi Asrama Brimob Tanjungbalai.
  10. Stadion Asahan Sakti Tanjungbalai yg dibangun setelah kemerdekaan (sekitar awal tahun 60an) 
  11. Pekan Tanjungbalai
  12. Perkampungan penduduk Tanjungbalai
  13. Mesjid Raya Sultan Asahan
  14. Pesisir Sungai Asahan (belakang Jl. Asahan)
  15. Kuburan Belanda, sekarang telah berubah menjadi Pasar Mayat (Pusat Kuliner)
  16. Kantor Pos di Jl. Sudirman
  17. Pelabuhan Tanjungbalai
  18. Kantor Pemerintah Hindia Belanda di Asahan, sekarang menjadi asrama polisi (Jl. Sudirman-Sijambi Tanjungbalai)
  19. Kantor Syahbandar Pengelola Pelabuhan Tanjungbalai
  20. Rumah Gementee Hindia Belanda, sekarang menjadi rumah dinas Walikota Tanjungbalai yang sebelumnya pernah menjadi rumah dinas Bupati Asahan

Rabu, 02 Juli 2014

Sejarah Monza Tanjungbalai







RIWAYAT PASAR SEKEN (MONZA) TANJUNGBALAI

Terinspirasi maraknya pasar pakaian bekas eks luar negeri di Jalan Mongonsidi Medan yang populer disebut dengan "Monza" singkatan dari Mongonsidi Plaza, karena pasar darurat ini awalnya terletak di sisi kiri dan kanan Jalan Mongonsidi Medan (kalau dari Jl. Juanda sebelum jembatan Sungai Babura). Pasar ini bukanlah bangunan permanen seperti plaza-plaza sebenarnya tetapi awalnya hanya berupa kios-kios darurat. Pasar Monza ini muncul di medio 90an disaat plaza-plaza di Medan mulai tumbuh subur. Di pasar ini tersedia baju, celana, pakaian dalam, jaket, kaos kaki, tas, sepatu, karpet, dll eks luar negeri yang bahan-bahannya berasal dari Malaysia. Korea Selatan, Jepang dan China masuk melalui Pelabuhan Belawan. Karena masih layak dipakai dan bermutu bagus disamping harganya sangat terjangkau pasar pakaian bekas ini dari hari ke hari semakin di tengah-tengah masyarakat Kota Medan terutama pelanggannya dari kalangan mahasiswa perantau yang berasal dari seluruh daerah di Sumatera Utara yang tengah melanjutkan pendidikannya di Medan.

Mahasiswa/i inilah rupanya menjadi corong publikasi mempromosikan Pasar Monza ke daerah-daerah lainnya bilamana sang mahasiswa/i kembali ke kampungnya. Mereka sering diminta membawakan oleh-oleh  berupa pakaian, tas, dan barang eks luar negeri lainnya dari Pasar Monza di Meda. Pada saat sang masiswa/I kembali ke Medan sering pula dititipi uang untuk membelikan barang dari Monza untuk dikirimkan nantinya. Kala itu para kawula muda Medan lagi "demam produk luar negeri" , seperti mencari jeans merk Levis, kemeja Pierre Cardin, T-Shirt, kaus oblong, dan produk denim lainnya.

Melihat maju dan begitu prospeknya geliat jual beli di pasar ini, maka tertarik pulalah para pengusaha-pengusaha Tanjungbalai yang selama ini telah menjalin hubungan dagang dengan pengusaha-pengusaha Malaysia berbisnis hasil laut, pertanian, dan manufacture untuk menyambi ke bisnis pakaian bekas ini. Pengusaha-pengusaha pakaian bekas ini populer disebut masyarakat Tanjungbalai “Tokeh Bal”. 

Awalnya pedagang-pedagang eceran mengambil bal dari para tokeh bal umumnya berada di kawasan SS. Denki Tanjungbalai dan menjualnya kembali ke masyarakat masih sebatas di rumah-rumah ataupun masih di lingkungan tempat tinggalnya masing-masing. Satu dua orang ada juga yang menjajakannya ke kampung-kampung di sekitar Tanjungbalai dan Asahan.

Karena makin dicari dan dikenal masyarakat maka para pedagang eceran ini mulai mencari tempat yang lebih luas dan strategis. Pada waktu itu kawasan bangsal (TPO Tanjungbalai) sebagai bagian dari aset PT. KAI masih merupakan lapangan terlantar yang tidak termanfaatkan dengan baik. Disinilah awalnya para pegadang-pedagang eceran pakaian bekas ini menggelar dagangannya bersama-sama. Rupanya bisnis ini dari waktu ke waktu semakin maju dan semakin populer ke seantero Sumatera Utara bahkan sampai ke provinsi tetangga lainnya seperti Aceh dan Riau mengalahkan kepopuleran tempat asalnya bisnis ini di Monza Medan. Nama Monza sebagai asalnya di Medan sudah akrab di telinga masyarakat begitu pula pasar seken ini di Tanjungbalai awalnya disebut masyarakat juga dengan "Pajak Monza". Melalui perhatian Pemerintah Kota Tanjungbalai dibawah kepemimpinan dr. Sutrisno Hadi, Sp.OG waktu itu maka dibangunlah Pasar Monza Tanjungbalai itu secara permanen.

Tidak terbantahkan bahwa dengan maraknya bisnis bal ini maka roda perekonomian Kota Tanjungbalai semakin menggeliat yang melibatkan seluruh mata rantai ekonomi. Mulai dari buruh bongkar muat, tukang beca, tukang ojek, pedagang, pegawai, karyawan, bahkan para pejabat sipil, polisi  sampai militer merasakan geliat ekonomi masyarakat Tanjungbalai ini. Namun hakekatnya secara skala nasional bisnis ini sangatlah memprihatinkan karena akan mengancam produksi dalam negeri untuk barang sejenis, mengganggu keseimbangan antara barang ekspor dengan impor, dapat mengganggu kesehatan masyarakat karena tidak steril, dapat membawa/membonceng barang-barang terlarang seperti Narkoba, senjata api, dll.

Untuk melindungi produk dalam negeri Indonesia serta imbas lainnya itu Pemerintah telah mengeluarkan peraturan menteri perdagangan No. 229/MPP/Kep/7/1997 tentang Ketentuan Umum Bidang Impor, dan selanjutnya diperbaharui dengan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor : 54/M-DAG/PER/10/2009 Tentang Ketentuan Umum Di Bidang Impor. Tapi apa nyana pelaksanaannya di Kota Tanjungbalai tidak seperti yang diharapkan, para aparat pengelola pelabuhan, pantai, laut dan Pemerintah Daerah di kota ini tidak harmonis dalam satu tindakan. Aparat Bea Cukai terlihat seperti berjalan sendiri dan akhirnya gamang dan takut. Beberapa kali tindakan mereka untuk melaksanakan kebijakan pemerintah tentang impor ini berujung pada tindakan unjuk rasa dan penyerangan. Parahnya lagi para aparat keamanan dan hukum bagai menonton saja. Patroli Bea Cukai Teluk Nibung di perairan Asahan bagaikan mandul, karenanyalah mereka sering berkoordinasi dengan Patroli-Patroli Bea Cukai dari daerah lainnya seperti BC Belawan dan BC Tanjungbalai Karimun untuk mengamankan penyelundupan di kawasan Pantai Timur Sumatera di Selat Malaka. 

Beberapa berita miris sering kita dengar seperti operasi pemberantasan penyelundupan Bea dan Cukai Teluk Nibung dihalang-halangi masyarakat yang terdiri dari anak-anak dan wanita bayaran (Rp. 50.000,- perkepala) dinaikkan pada sebuah perahu bermesin untuk menghalang-halangi petugas melakukan pemeriksaan dan penangkapan di Kuala Bagan Asahan dan Sungai Asahan. Banyak pula hasil tangkapan dari operasi pemberantasan penyelundupan dari aparat BC Teluk Nibung akhirnya dilepas oleh aparat institusi negara dan pemerintah lainnya. 

Dibawah ini sengaja penulis kutip sebuah berita tentang action BC Teluk Nibung. 

Tim Patroli Laut Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean C Teluk Nibung berhasil melakukan penegahan 1.250 ball pakaian bekas pada Senin (13/1) lalu. Pakaian bekas tersebut diselundupkan oleh KM Anda Jaya GT. 34 Nomor 883 PPe dari Port Klang, Malaysia tujuan Tanjung Balai, Sumatera Utara. Penegahan dilakukan di sekitar Perairan Tanjung Jumpul, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara.

Setelah mendapat informasi dari masyarakat mengenai kapal yang bermuatan pakaian bekas, Tim Patroli Laut KPPBC Tipe Madya Pabean C Teluk Nibung ditugaskan untuk berpatroli di sekitar Perairan Asahan. Dengan menggunakan Kapal Patroli BC 15031, tim mulai bergerak dari Pangkalan Operasi sekitar pukul 19.00 WIB. Setelah sampai di sekitar Perairan Tanjung Jumpul, Tim Patroli Laut menjumpai KM Anda Jaya yang dinakhodai oleh SM, dan langsung dilakukan pencegahan.
Tim berhasil mengamankan seorang nakhoda dan tujuh orang anak buah kapal (ABK). Selanjutnya, KM. Anda Jaya beserta muatannya, nakhoda dan seluruh ABK dibawa ke Pangkalan Operasi Kanwil DJBC Sumut di Belawan.

Saat ini, petugas sedang melakukan proses penyidikan, dan penyidik telah menetapkan status tersangka kepada nakhoda KM Anda Jaya. Tersangka diduga melanggar Pasal 102 huruf a Undang-Undang (UU) Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah telah diubah dengan UU Nomor 17 tahun 2006, dengan sanksi pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). Selain itu, upaya penyelundupan ini juga melanggar Surat Keputusan Menteri Perdagangan dan Koperasi Nomor 28 Tahun 1982 tentang Ketentuan Umum di Bidang Impor yang melarang importasi pakaian bekas.

Dari Laporan Kinerja Dirjen Bea dan Cukai tahun 2011 saja terjadi Penindakan NPP (Narkotika, Psikotropika dan Prekursor) KPPBC Teluk Nibung sebanyak 19 kali. Beberapa hasil kegiatan patroli lautnya adalah sebagai berikut: 
  1. Salah satu patroli laut yang telah dilaksanakan adalah pencegahan kapal MT. Western KGT dan MT Concertina yang kedapatan membawa komoditi crude oil sebanyak + 650 kilo liter dengan modus melakukan pemuatan dan pengangkutan barang ekspor berupa crude oil tanpa dokumen dengan cara ship to ship; 
  2. Penyegelan terhadap KM Artika yang mengangkut spare parts. stationery and accesories, dll, dengan proses peyelesaian lebih lanjut diserahkan kepada KPPBC Tipe A3 Teluk Nibung.
Kita mengharapkan sudah saatnya seluruh aparatur pemerintah dan negara Republik Indonesia yang bertugas di Tanjungbalai mengedepankan kepentingan negara dan bangsa di atas kepentingan pribadi dan golongan sesuai dengan sumpah dan janji yang telah diucapkan dalam mengemban tugas. Bravo Tanjungbalai.