Rabu, 18 Juni 2014
MASYARAKAT PESISIR
MENGENAL MASYARAKAT PESISIR ASAHAN
Ralp Linton mendefinisikan masyarakat merupakan sekelompok manusia yang telah hidup lama dan bekerja sama sehingga mereka dapat mengatur diri dan menganggap diri mereka sebagai kesatuan sosial dengan batas tertentu yang diharuskan dengan jelas.
Masyarakat pesisir adalah masyarakat yang mendiami batas wilayah pesisir. Wilayah pesisir dapat dilihat dari dua macam batas yang memisahkan wilayah pesisir dengan garis pantai. Batas yang sejajar dengan pantai dan batas yang tegak lurus terhadap garis pantai.
Wilayah pesisir merupakan pintu masuk perkembangan sosial budaya dan ekonomi masyarakat Indonesia sejak jaman dulu, menjadi jalan masuk transportasi dan transformasi sosiologis serta budaya masyarakat. Selain faktor sosiologis tersebut, di wilayah pesisir inilah pada mulanya terjadi transaksi kebutuhan masyarakat meliputi pangan, sandang, dan papan karena moda transportasi masa dulu sampai sekarang menggunakan jalur air (sungai dan laut). Wilayah pesisir juga memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat potensial baik bagi masyarakat pesisir itu sendiri maupun perekonomian secara luas. Karakter sosial masyarakat di pesisir ini terbentuk melalui proses panjang. Sebagai contoh adalah fakta sosial di Tanjung Balai, Asahan. Karakter sosial pesisiran seperti gaya hidup konsumtif terjadi karena adanya dorongan ”gengsi sosial” yang kini semakin tampak menggejala dan merupakan ”kompensasi psikologis” dari kesengsaraan hidup yang cukup lama menimpa. dalam tatanan sosiologis tersebut, kata lain gaya hidup yang dianggap ”boros” itu merupakan upaya masyarakat di pesisir untuk menyenangkan diri sesaat. Gejala sosial yang terjadi umum di wilayah pesisir Indonesia ini dilakukan dalam menikmati kehidupan yang selayaknya.
Streotipe ini sering dianggap menjadi penyebab kemiskian nelayan pesisir. Padahal kultur sosial masyarakat pesisir, jika dicermati pada dasarnya memiliki etos kerja yang handal. Bayangkan mereka pergi subuh pulang siang, kemudian menyempatkan waktunya pada waktu senggang untuk memperbaiki jaring, dan seterusnya. Kondisi tersebut lambat tapi pasti membentuk dan menjadi identitas mereka (Ginkel, 2007).
Masyarakat Tanjungbalai, pesisir Timur Sumatera ini, secara sosio kultur-pendidikan lemah dan pasif. Secara struktural mereka termarginalisasi dalam sistem. Menurut Sunarto (2004) marjinalisasi hanyalah satu di antara banyak masalah sosiologis yang timbul sebagai akibat ketimpangan (Sunarto, 2004). Di mana ketimpangan ketersediaan sarana sosial ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan sarana infrastruktur publik. Marjinalisasi mengabaikan hakekat pemberdayaan masyarakat partisipatif (Ife, 2002), cenderung mengakibatkan keadaan komunitas pedesaan di pesisir menjadi semakin tidak berdaya dalam beradaptasi terhadap perubahan sosio-struktural dan ekologis. Bentuk perlakuan masyarakat lainnya terhadap mereka mempengaruhi bentuk-bentuk respons masyarakat pesisir artinya, jika kita menghormati dan menghargai mereka, merekapun akan akan merespons dengan tindakan yang sama demikian pula sebaliknya. Realitas pendidikan di masyarakat pesisir adalah pendidikan yang mengalami “Dehumanisasi”, dikatakan demikian karena pendidikan mengalami proses kemunduran dengan terkikisnya nilai-nilai kemanusiaan yang dikandungnya.
Bisa juga dikatakan bahwa pendidikan kita mengalami “kegagalan” apabila kita menengok beberapa kasus yang lalu terjadi telah muncul di permukaan. Realitas pendidikan masyarakat pesisir kian mensubordinasi dan memarginalisasi masyarakat, merupakan ancaman terhadap demokratisasi dan tujuan masyarakat. Sejatinya masyarakat pesisir dapat mengenyam pendidikan sama dengan masyarakat mampu yang lain, dikarenakan pendidikan merupakan hak seluruh warga masyarakat dan sudah saatnya reformasi pendidikan masyarakat pesisir perlu untuk segera dan secara masif di upayakan, yaitu gagasan dan langkah untuk menuju pendidikan yang berorientasi kemanusiaan.
Dengan tingkat pendidikan, ada juga keterampilan yang rendah anak anak menjadi putus sekolah dan lebih memilih bekerja sebagai nelayan, dikarenakan pendidikan tidak menunjang. Sosiologi pesisir secara semantik berasal dari dua kata “sosiologi” dan “pesisir”. Kedua konsep tersebut, secara terpisah mempunyai definisi yang saling mengait. Istilah sosiologi pertama kali dimunculkan oleh Auguste Comte (1798-1857), tahun 1839 di dalam bukunya Cours de Philosophie Positive (Sunarto, 2000; Narwoko dan Suyanto, 2006; Komarudin, 2011). Namun bila dirunut kebelakang embrio sosiologi sudah dimunculkan sejak abad 14 melalui pemikiran Ibnu Khaldun, seorang Sosiolog Muslim yang dikenal melalui bukunya Muqaddimah (Khaldun, 2000). Secara sederhana sosiologi berarti studi tentang masyarakat, tetapi dalam praktiknya sosiologi berarti studi tentang masyarakat dipandang dari satu segi tertentu (Komarudin, 2011).
Sejalan dengan pandangan Komarudin, perkembangan sosiologi dewasa ini menyajikan cara-cara untuk mempergunakan pengetahuan ilmiahnya guna memecahkan masalah praktis atau masalah sosial yang perlu ditanggulangi (Narwoko dan Suyanto, 2006). Hal itu juga dapat dilihat agar kajian sosiologi berujung pada berbagai kebijakan sosial (social policy) yang terkait dengan berbagai problem sosial yang ada di masyarakat kita. Sementara itu, sosiologi pesisir merupakan cabang sosiologi yang mengkaji objek khusus yaitu masyarakat pesisir yang hidup dari sumber daya laut seperti nelayan, buruh, pembudidaya, dan sebagainya. Kemunculan sosiologi pesisir sebagai cabang sosiologi ini ditengarai karena kajian mengenai masyarakat pesisir dalam wacana sosiologi di Indonesia belum mendapat perhatian yang serius. Padahal pesisir dan masyarakatnya adalah ruang sosial yang signifikan. Keberadaannya penting lantaran fungsinya yang tidak sekedar sebagai area perhubungan (keluar masuk orang dan barang) maupun sebagai area penangkapan/pengumpulan, pengolahan, dan komersialisasi sumber daya laut (penangkapan ikan, budidaya tambak, dan industrialisasi ikan laut/ikan asin dan lain sebagainya), namun juga sebagai instrumen politik negara sebagai negara bahari. Dua fungsi tersebut pada kenyataannya memiliki konsekuensi logis dalam geliat kehidupan masyarakat pesisir.
Karakter masyarakat pesisir merupakan aspek penting dalam sebuah pandangan sosiologi. Setting sosio-edukasi masyarakat pesisir di Indonesia, menjadi penanda karakteristik kultur masyakatnya. Kultur masyarkat pesisir ini akrab dengan ketidakpastian yang tinggi. hal ini disebabkan karena kehidupan sosial di wilayah Pesisir tergantung pada sumber daya laut yang ada. Secara alamiah, sumberdaya laut pesisir (perikanan) bersifat invisible, sehingga sulit untuk diprediksi. Dalam kondisi seperti ini maka tidak jarang ditemui karakteristik masyarakat pesisir Indonesia yang keras, sebagian temparemental, dan boros karena ada persepsi bahwa sumberdaya perikanan “tinggal diambil” di laut.
Secara sosiologi perlu adanya transformasi pendidikan dan budaya yang dapat membangun keadaban pesisir – keadaban yang transformatif, tangguh, dan mandiri, bukan keadaban yang lemah, pasif, dan destruktif (Mubyarto, et. al. 1984: 10).
Masyarakat nelayan secara umum di Indonesia dalam tataran evolusi sosio-budaya berada pada perkembangan awal. Sukadana (1983), menyampaikan bahwa perubahan antroposere dalam kehidupan manusia ada enam tingkatan, mulai dari: food gather, hunting and fishing, pastoral nomad, agriculture, industry dan terakhir urban.
Koentjaraningrat (1985) juga menggunakan pendekatan evolusi ini, yang dimulai dari: meramu, perikanan, dan kemudian pertanian (dari perladangan berpindah sampai ke pertanian menetap).
Dengan demikian, perspektif evolusioner masih relevan digunakan sebagai dasar memahami dinamika masyarakat nelayan, apalagi dalam kehidupan masyarakat nelayan yang terikat habitat.
Perkembangan masyarakat masa kini yang berada dalam abad informasi, tentu akan berinteraksi dengan lingkungan sosial luar secara intensif. Hal ini memberi konsekuensi teoretik, bahwa analisis dengan pendekatan teori sosiologi modern menjadi relevan digunakan untuk menelaah dinamika masyarakat nelayan. Sintesis teoretik antara para antropolog yang menggunakan pendekatan evolusioner dengan para sosiolog modern yang salah satu ruang kajiannya berdimensi struktural merupakan suatu upaya agar kita semakin memiliki alat analisis yang lebih memadai untuk menjelaskan perkembangan masyarakat dalam abad ini, jika mungkin untuk melakukan peramalan terhadap perubahan sosial di masa mendatang.
Demikian pula, mengingat bahwa masyarakat nelayan dalam menjalani kehidupannya masih sangat bergantung pada kondisi habitatnya, maka memadukan pendekatan ekosistem akan semakin menjadikan analisis ini dapat lebih kontekstual.
Senin, 19 Mei 2014
Perkembangan Tanjungbalai Dari Masa ke Masa
1. Masa Kerajaan Pardembanan dan Kesultanan Asahan
Kampung di ujung tanjung itu sejak kepulangan Sultan Iskandar
Muda (Raja Aceh 1612 M) darisana hari ke hari semakin ramai dan dikenal
masyarakat sekitarnya. Balai tempat menghadap Raja Margolang kepada Sultan
Iskandar Muda itupun tetap dipertahankan sampai menunggu lahirnya sang Pangeran
yang akan dinobatkan sebagai Sultan I Asahan sesuai perjanjian antara Bayak
Lingga (Haro-haro) dengan Sultan Iskandar Muda bergelar Sultan Aladdin Mahkota Alam Johan Berdaulat (Sultan Alaiddin Riayatsyah "Al Qahhar"), Bayak Lingga datang
menghadap bersama kedua abang Puteri Ungu Selendang Awan (Puteri Raja Air
Merah-Panai) untuk menjemput sang Puteri yang sedang hamil.
Kampung ini lama kelamaan berubah menjadi bandar yang ramai tempat bertemunya masyarakat petani yang membawa untuk menjual hasil-hasil hutan dan pertanian dari hulu Sungai Asahan (suku Batak) dan Sungai Silau (suku Simalungun) dengan nelayan, pelaut, dan pedagang dari pesisir Sumatera Timur bahkan Semenanjung Malaysia (suku Melayu, Bugis, China, dan Arab). Akhirnya dikenal masyarakat dengan Tanjungbalai daerah yang menjadi koloni Kerajaan Aceh dibawah pengawasan Raja Margolang yang berkuasa di sekitar Bandar Pulau (ke hulu Sungai Asahan).
Marga “Simargolang” berasal dari Raja Simargolang salah seorang putera dari Ompu Sahang Mataniari. Tarombo marga Simargolang (karena sudah sejak lama dan seluruhnya telah meninggalkan daerah Toba) tidak begitu jelas lagi dalam buku-buku tarombo marga-marga suku Batak Toba tua.
Menurut hikayat lama adapun Ompu Sahang Mataniari alias Ompu Sahang Matanibulan, adalah paman dari Si Nagaisori yang tercatat dalam buku tarombo sebagai putera dari Sipongki Nangolngolan (Tuanku Rao), masuk ke dalam tarombo marga Rajagukguk (salah satu cabang dari marga Aritonang). Berdasarkan penyelusuran dan penelitian sejarah sebenarnya Margolang masuk marga Sinambela cucu dari Si Singa Mangaraja ke VIII. Kerajaan Margolang awalnya berpusat di Pulau Raja dengan wilayah penyebaran mencakup sebagian Asahan dan sebagian Labuhan Batu, Raja terakhir yang mejadi pemimpin masyarakat ini adalah Raja Marlau.
Kampung ini lama kelamaan berubah menjadi bandar yang ramai tempat bertemunya masyarakat petani yang membawa untuk menjual hasil-hasil hutan dan pertanian dari hulu Sungai Asahan (suku Batak) dan Sungai Silau (suku Simalungun) dengan nelayan, pelaut, dan pedagang dari pesisir Sumatera Timur bahkan Semenanjung Malaysia (suku Melayu, Bugis, China, dan Arab). Akhirnya dikenal masyarakat dengan Tanjungbalai daerah yang menjadi koloni Kerajaan Aceh dibawah pengawasan Raja Margolang yang berkuasa di sekitar Bandar Pulau (ke hulu Sungai Asahan).
Marga “Simargolang” berasal dari Raja Simargolang salah seorang putera dari Ompu Sahang Mataniari. Tarombo marga Simargolang (karena sudah sejak lama dan seluruhnya telah meninggalkan daerah Toba) tidak begitu jelas lagi dalam buku-buku tarombo marga-marga suku Batak Toba tua.
Menurut hikayat lama adapun Ompu Sahang Mataniari alias Ompu Sahang Matanibulan, adalah paman dari Si Nagaisori yang tercatat dalam buku tarombo sebagai putera dari Sipongki Nangolngolan (Tuanku Rao), masuk ke dalam tarombo marga Rajagukguk (salah satu cabang dari marga Aritonang). Berdasarkan penyelusuran dan penelitian sejarah sebenarnya Margolang masuk marga Sinambela cucu dari Si Singa Mangaraja ke VIII. Kerajaan Margolang awalnya berpusat di Pulau Raja dengan wilayah penyebaran mencakup sebagian Asahan dan sebagian Labuhan Batu, Raja terakhir yang mejadi pemimpin masyarakat ini adalah Raja Marlau.
Situs sejarah dari Raja Simargolang
I dan II di Dusun Dolok Maraja, Desa Lobu Rappa, Kecamatan Aek Songsongan dan
Raja Simargolang pada keturunan berikutnya sampai ke Kampung Pea atau Kampung
Sawah, Desa Marjanji Aceh, Kecamatan Aek Songsongan dan di Dusun Pancuran Raja,
Des Rahuning Kecamatan Rahuning, di Kampung Pertandanan, Dusun Titi Putih, Desa
Gunung Melayu Kecamatan Rahuning. Akhirnya pada keturunan ke V sampai ke Kampung
Pertandaan, Dusun Titi Putih, Desa Gunung Melayu.
Disamping komunitas masyarakat
Margolang di daerah ini juga ditemukan komunitas masyarakat Nahombang. Hal ini
dapat dilihat dari ditemukannya patung-patung Raja Tuan Nahombang di Kampung
Parhutaan Gana-Gana, Desa Gonting Malaha Kecamatan Bandar Pulau. Ditambah lagi
Gua Silalahi yang juga di Bandar Pulau.
Sementara itu di daerah pinggiran
Sungai Silau ke hulunya adalah daerah penyebaran komunitas masyarakat
Simalungun. Daerah ini dahulunya dibawah kekuasaan Raja Purba Dasuha hingga
dibawah kekuasaan Sitorus Pane.
Ini dapat dilihat dari situs sejarah Istana Kerajaan Pane di Dusun V Desa Simpang Buntu Pane, Kec. Buntu Pane. Di daerah ini terdapat Batu Pelanggiran (terletak di Padang Makkire perkebunan Ambalutu Buntu Pane). Istana Raja Pane yang pertama dibangun di daerah Tratak, namun tidak diketahui siapa Rajanya dimasa itu. Kemudian dipindahkan ke daerah Padang Makkire pada masa Pemerintahan Raja Pane yang ke V yaitu Raja Nabaruton. Kemudian di bangun di daerah Dusun V Desa Simpang Buntu Pane pada Tahun 1939 oleh Raja Pane yang ke XII yaitu Sitorus Pane yang lebih dikenal dengan Raja Idup Sitorus Pane.
Ini dapat dilihat dari situs sejarah Istana Kerajaan Pane di Dusun V Desa Simpang Buntu Pane, Kec. Buntu Pane. Di daerah ini terdapat Batu Pelanggiran (terletak di Padang Makkire perkebunan Ambalutu Buntu Pane). Istana Raja Pane yang pertama dibangun di daerah Tratak, namun tidak diketahui siapa Rajanya dimasa itu. Kemudian dipindahkan ke daerah Padang Makkire pada masa Pemerintahan Raja Pane yang ke V yaitu Raja Nabaruton. Kemudian di bangun di daerah Dusun V Desa Simpang Buntu Pane pada Tahun 1939 oleh Raja Pane yang ke XII yaitu Sitorus Pane yang lebih dikenal dengan Raja Idup Sitorus Pane.
Kerajaan Pane sudah diperintah
sebanyak 12 raja, diantaranya Buttu Martabun, merupakan Raja Pane yang pertama,
Raja Nabaruton, merupakan Raja Pane yang kelima, Sah Maraja, merupakan Raja
Pane yang kesembilan, Marihot Jawa, merupakan Raja Pane yang kesepuluh, Sitorus
pane, merupakan Raja Pane yang kedua belas, dan bergelar Raja Idup Sitorus
Pane.
Dilihat dari suka
berpindah-pindahnya pusat kekuasaan kerajaan kecil ini, menunjukkan bahwa mereka
hanyalah kelompok-kelompok masyarakat seketurunan dan seasal yang berekspansi
alamiah ke daerah sekitarnya melalui darat ataupun sungai karena kebutuhan
hidup yang lebih baik. Juga ditandai dengan belum mempunyai tata kelola kepemerintahan
yang baik layaknya kerajaan-kerajaan besar masa itu. Mereka mengangkat
pemimpinnya diantara mereka dari tokoh yang dituakan ataupun yang lebih berilmu
dan sakti diantara mereka atau keturunannya.
Kerajaan Margolang, Kerajaan
Nahombang, dan Kerajaan Pane ketiga kerajaan kecil ini disebut juga dengan
Batak Pardembanan (Suku Batak di daerah Asahan).
Suku Pardembanan (Suku Batak Islam di Asahan) menarikan tarian daerah
Alkisah lahirlah Abdul Djalil Rahmadsyah sang Pangeran di bawah perlindungan dan asuhan Sukma Diraja (keturunan Perlak kepercayaan dari Sultan Iskandar Muda untuk melindungi Pangeran karena Puteri Ungu sesudah melahirkan diperbolehkan menikah lagi dengan Bayak Lingga). Setelah akil baligh (1630 M) dengan disaksikan oleh Pihak Raja Margolang dan Sultan Iskandar Muda, sang Pangeran dinobatkan menjadi Sultan Asahan I dengan gelar Sultan Tuanku Abdul Djalil Rahmadshah di Balai di Ujung Tanjung. Pusat kekuasaan kala itu masih berada di Bandar Pulau dengan menempatkan keluarga “Bahu Kanan (Abdul Karim, putera Raja Bolon dan Siti Onggu)” dan “Bahu Kiri (Abdul Samad dan Abdul Kahar, putera-putera Raja Bolon dengan Puteri Raja Margolang)” memimpin daerah daerah kecil dan tetap tunduk pada Kesultanan Asahan.
Suku Pardembanan (Suku Batak Islam di Asahan) menarikan tarian daerah
Alkisah lahirlah Abdul Djalil Rahmadsyah sang Pangeran di bawah perlindungan dan asuhan Sukma Diraja (keturunan Perlak kepercayaan dari Sultan Iskandar Muda untuk melindungi Pangeran karena Puteri Ungu sesudah melahirkan diperbolehkan menikah lagi dengan Bayak Lingga). Setelah akil baligh (1630 M) dengan disaksikan oleh Pihak Raja Margolang dan Sultan Iskandar Muda, sang Pangeran dinobatkan menjadi Sultan Asahan I dengan gelar Sultan Tuanku Abdul Djalil Rahmadshah di Balai di Ujung Tanjung. Pusat kekuasaan kala itu masih berada di Bandar Pulau dengan menempatkan keluarga “Bahu Kanan (Abdul Karim, putera Raja Bolon dan Siti Onggu)” dan “Bahu Kiri (Abdul Samad dan Abdul Kahar, putera-putera Raja Bolon dengan Puteri Raja Margolang)” memimpin daerah daerah kecil dan tetap tunduk pada Kesultanan Asahan.
Setelah Raja Bolon meninggal dunia terjadi perebutan kekuasaan di Bandar Pulau. Dengan didukung kakeknya (Raja Margolang), Abdul Samad dan Abdul Kahar (putera-putera Raja Bolon dengan Puteri Raja Margolang) berkuasa dan menjadi Raja di Huta Bayu dan Tanjung Pati melepaskan diri dari kekuasaan Kesultanan Asahan bahkan menyerangnya. Sultan Abdul Djalil Rahmadsyah dan pasukannya mundur ke Batubara dan darisana meminta pertolongan ke ayah beliau (Raja Aceh).
Sultan Abdul Jalil menikah dengan Puteri dari Bendahara Pemangku
Raja Bahu (anak dari Sukmadiraja dengan Ompa Liang) yang bernama Aminah dan
dikaruniai 5 ( Lima ) orang putera yaitu : Sultan Saidi Syah dan Sri Paduka
Raja. Kemudian Sultan Abdul Jalil Rahmadsyah menikah lagi dengan Tengku Ampuan,
puteri dari Tengku Sulung (gelar Marhom Mangkat di Simpang) Raja Panai dan
Bilah. Dari pernikahan ini mendapat tiga orang puteri Raja Busu, Raja Marsyah
dan Raja Huma Akhirnya beliau meninggal di Pangkalan Sitarak dekat Pulau Raja
dan dimakamkan disini (Bersambung).
Selasa, 13 Mei 2014
SEJARAH ASAHAN DAN TANJUNGBALAI
MENELUSURI SEJARAH ASAHAN DAN
TANJUNGBALAI MENDEKATI KEBENARAN
Untuk menelusuri kebenaran sejarah tentang asal-usul bermulanya Kota
Tanjungbalai, coba kita mundur jauh di bawah tahun 1612 M tahun dimana Sultan
Iskandar Muda menemukan sebuah kehidupan masyarakat di pesisir Sungai Asahan.
Mari kita bayangkan hanya beberapa rumah saja yang ada ditepian sungai itu dan
letaknyapun saling berjauhan.
Masa itu Selat Malaka sudah
menjadi rebutan sebagai bagian kekuasaan dari kerajaan-kerajaan besar di pesisir
Timur Sumatera dan Barat Semenanjung Malaya. Kesultanan Aceh dibawah kekuasaan
Sultan Iskandar Muda (masa kekuasaannya dari tahun 1607 s/d 1636) adalah
masa-masa yang paling jaya dimana hegemoni kekuasaannya sampai ke Semenanjung
Malaya (Perak dan Penang) dan bahkan menikahi Putri Pahang (Putroe Phang) yang
sangat dicintainya.
Suatu hari di tahun 1612 M armada
laut Kesultanan Aceh yang besar dan kuat yang langsung dipimpin oleh Sultan
Iskandar Muda melakukan pengejaran terhadap armada laut Sultan Johor (dari
Semenanjung Malaya) yang mencoba melakukan perjanjian dan hubungan kerjasama melalui
ikatan hubungan kekeluargaan antar kerajaan yang telah terbina sejak lama dengan
Kerajaan Aur (Langkat) yang notabene termasuk dalam kawasan hegemoni Kesultanan
Aceh.
Armada Laut Kesultanan Johor yang
dipimpin langsung Sultan Johor mendengar kabar bahwa pasukan Kesultanan Aceh
akan menyerang mereka segera kembali ke kapalnya dan lari pulang ke Semenanjung
Malaya. Dalam pengejaran Sultan Johor inilah Sultan Iskandar Muda sampai pada
sebuah muara yang sungainya lebar, itulah Kuala Bagan Asahan yang sekarang.
Untuk beristirahat mereka memasuki sungai yang lebar tersebut menyusuri
tepiannya. Sambil beristirahat, senjata-senjata yang mereka bawa perlu diasah
supaya teap tajam dan tidak berkarat. Mereka mencoba menggunakan daun-daun
rumput yang banyak tumbuh di sepanjang sungai itu yang dapat mengasah senjata
mereka. Sejak saat itu mereka menamai sungai itu dengan Sungai Asahan dan
kawasan sekitarnya dengan Asahan pada peta mereka.
Coba kita tinggalkan dahulu
Sultan Iskandar Muda bersama pasukannya lagi beristirahat di Sungai Asahan
ditengah-tengah pengejaran terhadap Sultan Johor dan pasukannya, sembari
mengasah senjata-senjata mereka dengan dedaunan tumbuh liar di sepanjang tepian
sungai.
Kita telusuri dahulu si Sungai
Asahan ini sampai melewati Teluk Dalam, Pulau Raja dan Bandar Pulau. Disini masa
itu (1612 M) sudah ada komunitas masyarakat yang dipimpin seorang penguasa
bernama Raja Margolang. Bandar Pulau merupakan kampung ramai sebagai pusat
kerajaan kecil itu, kampung ini terletak di tepian hulu Sungai Asahan,
sedangkan Pulau Raja adalah kawasan kekuasaan kerajaan yang dahulunya adalah
hutan belukar untuk dimanfaatkan oleh kerajaan dan rakyatnya mengambil hasil-hasil
hutan, hewan buruan serta sebagai lahan pertanian dan perkebunan untuk rakyat maupun
kerajaan. Sementara itu Teluk Dalam merupakan pelabuhan kecil kerajaan juga
pemukiman masyarakat nelayan.
Hikayat Hubungan Kekerabatan Kerajaan
Pinang Awan (Kota Pinang), Kerajaan Air Merah (Panai), dan Asahan
Sebelum kerajaan Asahan
berdiri terlebih dahulu telah berdiri kerajaan Pinang Awan. Kerajaan Pinang
Awan didirikan oleh Batara Sinomba atau disebut juga dengan Batara Gorga
Pinayungan yang berasal dari keturunan Minangkabau, anak dari raja Alamsyah
Syaifuddin keturunan raja Adithyawarman yang memerintah di kerajaan Pagaruyung
pada abad ke XV Masehi.
Raja Alamsyah Syaifuddin
( Raja Pagaruyung pada masa itu ) mengusir seorang anak kandungnya yaitu Batara
Gorga Pinayungan dan anak tirinya bernama Puteri Longgogeni dari negeri itu,
karena telah melakukan perbuatan yang tercela melanggar adat istiadat mengawini
satu garis turunan langsung ataupun satu marga.
Ketika mereka berdua
sedang berkemas untuk meninggalkan negeri tersebut, adik kandung Batara Gorga
Pinayungan yang bernama Batara Guru Payung bersikeras untuk ikut serta, tetapi
tidak diizinkan oleh ayah mereka Sultan Alamsyah Syaifuddin. Diam- diam Batara
Guru Payung ikut juga dengan mereka.
Mereka bertiga memutuskan
untuk berangkat ke Negeri Aceh, karena menurut kabar yang mereka dengar bahwa
negeri tersebut adalah negeri yang sangat makmur. Tanpa menunggu waktu lama
mereka pun berangkat menuju Utara dan sampai di suatu daerah yang bernama
Mandailing, karena beradat dan bersikap baik mereka diterima masyarakat, merekapun
menetap sementara ditempat tersebut.
Beberapa waktu kemudian
penduduk Mandailing mengetahui bahwa mereka bertiga adalah keturunan raja.
Karena daerah Mandailing masa itu belum memiliki raja, bermufakatlah para
penduduk untuk mengangkat salah seorang dari mereka bertiga untuk menjadi raja
di daerah Mandailing ini. Pilihan mereka jatuh kepada Batara Guru Payung (sang
Adik). Karena Batara Guru payung menyetujuinya maka dikawinkanlah dia dengan salah
seorang Puteri Mandailing dan dinobatkan menjadi raja Mandailing. Menurut
hikayat dari sinilah asal mula raja-raja Mandailing dan keturunannya.
Beberapa hari setelah
pengangkatan tersebut Batara Gorga Pinayungan ( Batara Sinomba ) dan Puteri
Longgogeni melanjutkan kembali perjalanan mereka untuk ke negeri Aceh dengan
dibekali dua ekor kuda dan bekal yang cukup. Ditengah perjalanan sampailah
mereka ditepi sungai Barumun. Karena hari telah senja dan sudah lelah maka
mereka memutuskan untuk beristirahat ditempat itu.
Keesokan harinya ketika
mereka terbangun dan hendak melanjutkan perjalanan, betapa takjubnya mereka
melihat pamandangan di daerah tersebut. Tak jauh dari tempat mereka
beristirahat ada sebuah pohon pinang yang sangat tinggi dan indah. Dari rasa
takjub akan keindahan daerah tersebut mereka pun bermufakat untuk tidak
melanjutkan perjalanan ke negeri Aceh akan tetapi menetap selamanya didaerah
itu yang mereka beri nama Pinang Awan.
Masa mereka itu Pinang
Awan hanya ada sekelompok penduduk yang terdiri dari dua marga yaitu marga Daposong
dan Tambak. Kedua marga tersebut dikepalai oleh Patoean Hadjoran.
Mendengar ada putera dari kerajaan Pagaruyung yang singgah didaerah mereka,
maka Patoean Hadjoran mengadakan penyambutan yang meriah, diangkatlah Batara
Sinomba menjadi raja di daerah Pinang Awan dengan gelar Sultan (Soetan)
Sinomba.
Dalam perjalanan
kepemimpinannya Batara Sinomba menjadi raja yang sangat arif dan bijaksana.
Dengan kearifannya dan kepintarannya semakin lama kampung tersebut semakin besar
hingga menjadi sebuah kerajaan yang diberi nama Kerajaan Pinang Awan dengan
letak pusat pemerintahannya dikenal denan nama Hotang Momo (Hotang Mumuk).
Batara Sinomba kemudian
menikah lagi dengan seorang puteri dari Marga Daposong dan dikaruniai seorang
Putera yang diberi nama Mangkuto Alam dan seorang anak puteri. Puteranya
menjadi raja di Air Merah dengan gelar Sultan Mangkuto Alam dan mempunyai dua
orang isteri dan seorang selir. Isteri kedua beliau adalah anak dari raja
Angkola. Dari kedua orang isterinya tersebut beliau dikaruniai 3 (tiga) orang
putera dan 2 (dua) orang puteri yaitu : Tengku Husin, Tengku Abbas, Tengku
Karib, Puteri Ungu Selendang Bulan dan Puteri Medja. Dari selirnya beliau juga
dikaruniai seorang putera, dengan kelicikannya berhasil mempengaruhi Raja Air
merah untuk mengangkat anaknya sebagai pengganti Raja Air Merah. Tengku Husin
dan Tengku Abbas diusir oleh ayahnya dari kerajaan Air Merah yang dikenal
dengan nama Kerajaan Panai.
Tengku Husin dan Tengku
Abbas tidak senang dengan hal ini dan membawa ibu mereka (permaisuri yang sah)
menghadap Sultan Aceh (Sultan Iskandar Muda pada masa itu) untuk meminta
bantuan. Dengan kebijaksanaannya Sultan Aceh mengutus salah seorang Panglimanya
Raja Muda Pedir untuk menyelesaikan sengketa di Kerajaan Panai tersebut.
Raja Muda Pedir dengan
dibekali armada perang kerajaan Aceh berangkat ke Air Merah, terjadilah
pertempuraan disana. Dalam pertempuran tersebut Sultan Mangkuto Alam mati
terbunuh di bawah pohon jambu. Dan karena itu beliau diberi gelar Marhum
mangkat dijambu. Dengan terbunuhnya Sultan Mangkuto Alam, sengketa pun berhasil
diselesaikan. Sebagai hadiah atas bantuan Sultan Aceh tersebut Tengku Abbas dan
Tengku Husin beserta ibunya bersepakat untuk menyerahkan kedua orang adik
perempuan mereka yaitu Siti Ungu Selendang Bulan dan Siti Medja sebagai hadiah
kepada Sultan Aceh untuk dijadikan Isteri.
Kembali kita jumpai
Sultan Iskandar Muda dan pasukannya yang sedang beristirahat sambil merawat
persenjataannya. Sultan melihat dari hulu hanyut kulit nangka dan beberapa
potong tungkul jagung, menandakan di hulu ada berdiam manusia. Ia perintahkan
pasukannya untuk menyusuri sungai ke hulu untuk memastikannya. Sampailah mereka
di pertemuan dua buah sungai.
Disini mereka melihat sudah ada beberapa rumah
penduduk dan tempat para nelayan menambatkan perahunya. Sultan memerintahkan
kepada beberapa prajuritnya dengan bersenjata untuk naik ke daratan dan
menjumpai pemuka disitu untuk dibawa ke hadapannya. Dari beberapa penduduk yang
mereka tanyakan tidak ada satupun yang mengerti bahasa mereka (bahasa Aceh).
Dengan bahasa isyarat akhirnya mereka dijumpakan penduduk dengan seorang pintar
Haro Haro bernama Bayak Lingga yang bisa mengerti sedikit bahasa Aceh. Akhirnya
komunikasipun lancar, merekapun disambut dengan baik. Penduduk kampung ini
datang berduyun-duyun menyaksikan sandarnya sebuah Kapal Perang Besar dari
Kerajaan Besar Aceh dengan dipimpin langsung Sultan Iskandar Muda yang sudah
lama mereka dengar kemasyhurannya. Penduduk melalui Bayak Linggapun meminta
mereka dapat beristirahat disini untuk beberapa hari untuk memulihkan kebugaran
sambil memuat logistiknya.
Sultan Iskandar Muda
memutuskan pasukannya beristirahat disitu karena tak mungkin lagi masuk lebih
ke hulu ke tempat pusat kerajaan kecil ini (Bandar Pulau) karena sungai semakin
kecil dan mendangkal dan tak dapat dilayari kapal besar mereka. Di Di kapal
Sultan Iskandar Muda meminta kepada Bayak Lingga untuk menyampaikan kepada
penguasa daerah itu (Raja Margolang) untuk membangun “balai-balai” sebagai
tempat menghadap di ujung tanjung itu dan menamai kawasan tersebut sebagai
Asahan dan tunduk kepada Kesultanan Aceh. Raja Margolang melalui Bayak Lingga
memenuhinya karena takut akan kekuatan pasukan serta kebesaran Kerajaan Aceh
yang sudah menghegemoni Wilayah Timur Sumatera bahkan Pantai Barat (Kerajaan
Pagaruyung). Bandar di ujung tanjung inilah akhirnya berkembang menjadi Tanjung
Balai seperti sekarang ini.
Sementara itu Kerajaan
Panai kembali bangkit dan menjadi sebuah kerajaan yang makmur. Tengku Husin dan
Tengku Abbas teringat dengan kedua adik perempuan mereka yang berada di
Kerajaan Aceh. Karena rasa rindu akhirnya mereka memutuskan berangkat ke Kerajaan
Aceh untuk menemui adik perempuan mereka tersebut. Sebelum berangkat mereka
singgah ke Asahan untuk mengajak salah seorang pemuka disana yang pernah
bertemu dengan Sultan Aceh sebelumnya dan mengerti dengan bahasa Aceh, Bayak
Lingga Karo-karo dan ia setuju untuk
menemani mereka menemui Sultan Aceh.
Setibanya mereka di
Negeri Aceh, mereka menemukan banyak pendatang dari luar Aceh yang berdatangan
ke negeri tersebut karena disana sedang berlangsung sayembara Sabung Ayam (
Laga ayam ) dengan hadiah yang besar. Sultan Iskandar Muda pun ikut ambil
bagian dalam sayembara tersebut karena beliau memang senang. Akan tetapi sangat
disayangkan ayam milik Sultan banyak yang mengalami kekalahan dari ayam orang
Bugis. Mungkin ini jalan yang diberikan oleh Tuhan, mereka bertiga kemudian
mencari beberapa ekor ayam untuk dibentuk dan dilatih sebagai petarung. Orang
Air Merah (Panai) masa itu memang terkenal ahli dalam sabung ayam, tidak berapa
lama mereka telah memiliki beberapa ekor ayam yang telah dilatih dan siap
dilaga untuk diserahkan kepada Sultan Iskandar Muda.
Sultan Iskandar Muda
sangat terkejut dan senang karena ayam pemberian mereka banyak yang mengalami
kemenangan dalam sayembara tersebut. Akhirnya setelah melewati beberapa sesi pertandingan
ayam milik Sultan Iskandar Muda berhasil menjadi juara dalam sayembara
tersebut. Atas jasa mereka itu Sultan Iskandar Muda mengundang mereka bertiga
dalam acara Jamuan Makan serta menawarkan hadiah apa yang mereka
inginkan. Mendengar hal ini mereka bertiga memohon waktu untuk bermufakat
dan tak lama kemudian mereka bertiga
kembali menemui Sultan Iskandar Muda untuk mengajukan permintaan sebagai hadiah
yang ditawarkan oleh Sultan.
Sultan Iskandar Muda sebenarnya
sudah merasa apa yang akan mereka pinta, yaitu meminta kedua orang adik
perempuan mereka yaitu Siti Ungu Selendang Bulan dan Siti Medja untuk dapat dibawa
pulang ke Kerajaan Panai. Dengan kearifan seorang Sultan Besar serta teguh
dengan janjinya Sultan Iskandar Muda pun mengabulkan permintaan mereka dengan
beberapa syarat. Pertama : Karena pada
saat itu Siti Ungu Selendang Bulan sedang mengandung, maka sebelum anak yang
dikandungnya lahir dia tidak boleh dikawinkan dengan siapa pun. Kedua : Jika
anak yang dilahirkannya tersebut adalah seorang Putera maka anak tersebut harus
diangkat menjadi raja di Asahan. Mereka bertiga menyetujui syarat tersebut dan
langsung bersiap-siap untuk berangkat pulang ke Air Merah (Panai).
Sebelum mereka berangkat
Sultan Iskandar Muda memberikan dua pucuk surat dan berpesan kepada mereka agar
singgah terlebih dahulu di Pasai (Aceh Tamiang) untuk membawa serta anak
Sakmadiraja, keturunan dari kampung sungai Tarap Minangkabau. Tujuannya agar
menjadi saksi hamilnya Siti Ungu Selendang Bulan dan menjadi pengasuh selama
anak tersebut beranjak dewasa. Sedangkan surat kedua ditujukan kepada Raja
Pasai agar ia setuju untuk melepaskan anak Sakmadiraja tersebut untuk berangkat
bersama mereka.
Setelah menerima pesan
dan dua pucuk surat tersebut mereka pun berangkat melalui lautan dengan
disaksikan oleh Sultan Iskandar Muda. Seperti yang dipesankan sebelum menuju
kampung halaman mereka singgah ke Pasai terlebih dahulu untuk menyerahkan surat
untuk membawa anak Sakmadiraja bersama mereka.
Setelah mereka tiba di
Air Merah ((Panai), beberapa bulan kemudian Siti Ungu Selendang Bulan pun melahirkan
seorang putera yang diberi nama Abdul Jalil Rahmatsyah.
Setelah melahirkan Abdul Jalil Rahmatsyah dan mendapatkan gelar Tengku dari Kesultanan Aceh (sesuai perjanjian dengan Sultan Iskandar Muda) barulah Siti Onggu (Siti Ungu Selendang Awan) menikah dengan Bayak Lingga Haro-Haro. Setelah masuk Islam, Haro-haro ini bernama Raja Bolon. Dari pernikahan ini lahir putranya yang bernama Abdul Karim, yang disebut bangsawan Bahu Kanan. Haro-haro menikah lagi dengan putri Raja Simargolang dan memperoleh dua putra, masing-masing bernama Abdul Samad dan Abdul Kahar. Keturunan mereka disebut bangsawan Bahu Kiri.
Makanya di
Kesultanan Asahan keturunannya ada yang bergelar Tengku dan Raja. Untuk
bangsawan yang bergelar Tengku adalah keturunan dari T. Abdul Jalil Rahmadsyah. Sedangkan Raja (Bahu Kanan)
adalah keturunan dari Raja Abdul Karim (putera T. Siti Ungu Selendang Bulan dan
Raja Bolon/Bayak Lingga Haro-Haro). Dan Raja (Bahu Kiri) adalah keturunan dari
Raja Abdul Samad dan Abdul Kahar (putera dari Raja Bolon/Bayang Lingga
Haro-Haro yang mengawini Putri Raja Margolang).
Disamping itu
adapula gelar Datuk Muda yang merupakan kerabat istana pemangku jabatan di
Kerajaan Asahan.
Cicit Sultan Asahan I yang bernama Sultan Abdul Jalil II pernah membantu Raja Ismail dalam merebut tahta Siak dari tangan Raja Alam (1771). Setelah berhasil, maka Siak memberinya gelar “Yang Dipertuan”. Berdasarkan gelar ini, Sultan Yahya dari Siak dalam suratnya kepada Gubernur Belanda di Melaka pada tahun 1791 menyebutkan bahwa Asahan adalah jajahannya dan ini ditentang oleh Asahan sendiri.
Cucu Sultan Abdul Jalil II adalah Raja Musa dan Raja Ali. Raja Musa menjadi raja di Asahan. Ketika Raja Musa mangkat, putranya masih dalam kandungan. Oleh karena itu pemerintahan digantikan oleh adiknya, Raja Ali. Raja Ali mempunyai seorang putra yang bernama Husin dan seorang putri yang bernama Raja Siti. Raja Siti menikah dengan Sultan Deli dengan mas kawin daerah Bedagai, dan putra yang lahir dari pernikahan tersebut harus menjadi raja di Bedagai.
Sultan Musa mempunyai putra bernama Raja Ishak. Ketika Sultan Musa mangkat, di Asahan pecah perang saudara antara Raja Husin (putra Sultan Ali) dengan Raja Ishak (putra Sultan Musa). Situasi ini ditemui John Anderson ketika ia berkunjung ke Asahan pada tahun 1823. Perang saudara itu diakhiri dengan perdamaian. Dalam perdamaian ditetapkan bahwa Raja Husin menjadi sultan dan Raja Ishak menjadi Rajamuda Asahan merangkap Raja Kualuh-Leidong.
Pada tahun 1835, Sultan Ismail dari Siak menyerang Asahan. Angkatan perang Siak yang dipimpin oleh Tengku Panglima Besar berhasil menundukkan Asahan. Pengganti Sultan Husin adalah putranya, yaitu Sultan Ahmadsyah (1854). Sultan Ahmadsyah ini terkenal gigih dalam melawan Belanda dan akhirnya dibuang ke Ambon oleh Belanda pada tahun 1865.
Ketiga putra Marhum Mangkat Di Jambu yaitu Raja Indera, Raja Segar, dan Raja Awan masing-masing diberi kekuasaan dan wilayah sendiri. Raja Indera sebagai putra tertua menetap di Kumbul dan menjadi zuriat Raja Panai dan Raja Bilah. Raja Segar menetap di Sungai Tunas dan Raja Awan menjadi zuriat Raja-raja Kotapinang.
Ketika pasukan Siak ke Panai dan Bilah pada tahun 1835, raja-raja tersebut tunduk dan diharuskan membantu menyerang Asahan. Akan tetapi Panai membantu setengah hati, sehingga serangan Siak gagal. Namun, tentara Siak sempat masuk ke Panai dan Raja Sultan Mangedar Alam lari ke Kotapinang. Raja Kotapinang, Sultan Busu, berikrar dengan Raja Panai menentang Siak, tetapi ternyata Kotapinang ingkar janji, sehingga Panai terpaksa meminta ampun dan membayar upeti sebesar $2.000 pada Siak.
Cicit Sultan Asahan I yang bernama Sultan Abdul Jalil II pernah membantu Raja Ismail dalam merebut tahta Siak dari tangan Raja Alam (1771). Setelah berhasil, maka Siak memberinya gelar “Yang Dipertuan”. Berdasarkan gelar ini, Sultan Yahya dari Siak dalam suratnya kepada Gubernur Belanda di Melaka pada tahun 1791 menyebutkan bahwa Asahan adalah jajahannya dan ini ditentang oleh Asahan sendiri.
Cucu Sultan Abdul Jalil II adalah Raja Musa dan Raja Ali. Raja Musa menjadi raja di Asahan. Ketika Raja Musa mangkat, putranya masih dalam kandungan. Oleh karena itu pemerintahan digantikan oleh adiknya, Raja Ali. Raja Ali mempunyai seorang putra yang bernama Husin dan seorang putri yang bernama Raja Siti. Raja Siti menikah dengan Sultan Deli dengan mas kawin daerah Bedagai, dan putra yang lahir dari pernikahan tersebut harus menjadi raja di Bedagai.
Sultan Musa mempunyai putra bernama Raja Ishak. Ketika Sultan Musa mangkat, di Asahan pecah perang saudara antara Raja Husin (putra Sultan Ali) dengan Raja Ishak (putra Sultan Musa). Situasi ini ditemui John Anderson ketika ia berkunjung ke Asahan pada tahun 1823. Perang saudara itu diakhiri dengan perdamaian. Dalam perdamaian ditetapkan bahwa Raja Husin menjadi sultan dan Raja Ishak menjadi Rajamuda Asahan merangkap Raja Kualuh-Leidong.
Pada tahun 1835, Sultan Ismail dari Siak menyerang Asahan. Angkatan perang Siak yang dipimpin oleh Tengku Panglima Besar berhasil menundukkan Asahan. Pengganti Sultan Husin adalah putranya, yaitu Sultan Ahmadsyah (1854). Sultan Ahmadsyah ini terkenal gigih dalam melawan Belanda dan akhirnya dibuang ke Ambon oleh Belanda pada tahun 1865.
Ketiga putra Marhum Mangkat Di Jambu yaitu Raja Indera, Raja Segar, dan Raja Awan masing-masing diberi kekuasaan dan wilayah sendiri. Raja Indera sebagai putra tertua menetap di Kumbul dan menjadi zuriat Raja Panai dan Raja Bilah. Raja Segar menetap di Sungai Tunas dan Raja Awan menjadi zuriat Raja-raja Kotapinang.
Ketika pasukan Siak ke Panai dan Bilah pada tahun 1835, raja-raja tersebut tunduk dan diharuskan membantu menyerang Asahan. Akan tetapi Panai membantu setengah hati, sehingga serangan Siak gagal. Namun, tentara Siak sempat masuk ke Panai dan Raja Sultan Mangedar Alam lari ke Kotapinang. Raja Kotapinang, Sultan Busu, berikrar dengan Raja Panai menentang Siak, tetapi ternyata Kotapinang ingkar janji, sehingga Panai terpaksa meminta ampun dan membayar upeti sebesar $2.000 pada Siak.
Langganan:
Postingan (Atom)





